ACEH — Reliance Industries, konglomerasi milik miliarder Mukesh Ambani, mengumumkan serangkaian layanan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang akan tertanam langsung ke dalam layanan telekomunikasi Jio. Pengumuman ini disampaikan dalam rapat pemegang saham tahunan perusahaan di Mumbai, Jumat pekan lalu.
Fitur utama yang diperkenalkan adalah Jio Call Agent, asisten AI yang bisa diaktifkan dengan perintah suara "Hey Jio". Asisten ini tidak hanya menyalin dan meringkas percakapan telepon secara real-time, tetapi juga bisa mengeksekusi tugas seperti memesan taksi, memesan makanan, dan membuat reservasi.
Yang membedakan layanan ini dari kompetitor seperti aplikasi perekam panggilan pihak ketiga adalah metode distribusinya. Jio tidak merilis aplikasi terpisah, melainkan menyematkan AI langsung ke infrastruktur jaringannya. Artinya, fitur ini menjadi fitur bawaan panggilan telepon, bukan aplikasi yang harus diunduh terpisah.
Reliance juga memperbarui aplikasi MyJio-nya dengan kemampuan AI. Pengguna kini bisa mengaktifkan eSIM, memilih paket roaming, atau mengelola akun hanya dengan perintah bahasa alami, tanpa perlu menavigasi menu berlapis.
Untuk segmen rumah pintar, perusahaan memperkenalkan TeleFrame, sebuah layar display yang menggunakan agen AI untuk secara proaktif menampilkan informasi seperti peringatan cuaca, jadwal harian, dan pengingat rumah tangga. Produk ini bersaing langsung dengan konsep ambient AI dari Amazon (Echo Show) dan Google (Nest Hub).
Untuk mendukung ambisi ini, Reliance telah mengumumkan rencana investasi sebesar 110 miliar dolar AS (sekitar Rp 1.815 triliun) dalam infrastruktur AI. Perusahaan telah menjalin kemitraan strategis dengan Google, Meta, dan Nvidia. Pekan lalu, Reliance mengumumkan kolaborasi dengan Meta untuk membangun pusat data AI di negara bagian Gujarat.
Dalam rapat yang sama, Ambani mengonfirmasi bahwa dewan direksi Jio Platforms telah menyetujui draf prospektus untuk penawaran umum perdana (IPO). Berdasarkan filing bursa, IPO akan mencakup penerbitan saham baru hingga 270 juta lembar. Langkah ini dinanti investor sebagai katalis pertumbuhan baru, mengingat saham Reliance Industries telah turun sekitar 17% tahun ini.
Perluasan layanan AI ke panggilan telepon, aplikasi, dan rumah pintar memunculkan pertanyaan serius tentang privasi data. Meskipun perusahaan menyatakan semua layanan berjalan dengan persetujuan pengguna, mereka belum memberikan jawaban jelas apakah data yang dihasilkan akan digunakan untuk melatih model AI atau dibagikan dengan mitra teknologi.
Langkah Reliance ini juga terjadi di tengah kekhawatiran ketergantungan India pada model dan penyedia cloud asing. Pembatasan akses terbaru terhadap beberapa model terbaru Anthropic menunjukkan betapa rentannya ekosistem AI India terhadap keputusan yang dibuat di luar negeri.
"India seharusnya tidak sekadar menjadi konsumen AI yang diciptakan di tempat lain. India harus menjadi pencipta, pengadopsi, dan pemimpin global dalam AI," ujar Mukesh Ambani, 69 tahun, dalam pidatonya.
Reliance bukan satu-satunya pemain besar India yang mengejar peluang AI. Tata Consultancy Services, Infosys, dan Adani Group juga telah memperluas inisiatif AI mereka melalui kemitraan dengan Anthropic, Google, dan OpenAI. Namun, bagi Reliance, taruhannya lebih tinggi: Jio membutuhkan mesin pertumbuhan baru menjelang debut pasarnya yang telah lama ditunggu.