LHOKSEUMAWE — Bagi masyarakat Aceh, aroma kukusan daun pisang yang bercampur santan adalah penanda paling kuat bahwa hari raya telah tiba. Timphan, kue tradisional berbahan dasar tepung ketan dan pisang, hampir selalu hadir di meja makan keluarga saat Lebaran.
Proses pembuatannya dimulai satu hingga dua hari sebelum hari H. Para ibu sibuk memarut kelapa, mengadon tepung, dan mengukus gulungan timphan yang telah diisi selai srikaya atau kelapa manis.
Timphan memiliki bentuk pipih memanjang dengan tekstur lembut dan kenyal. Bagian luarnya dibalut daun pisang muda berwarna hijau segar yang dioles minyak agar tidak lengket.
Isian utamanya adalah kelapa parut bercampur gula atau selai srikaya yang dibuat dari campuran telur, santan, gula, tepung, dan nangka cincang. Semua bahan dimasak perlahan hingga mengental sebelum dibungkus bersama adonan.
Sebuah pantun lama masih kerap terdengar di kalangan masyarakat Aceh: “Uroe goet buluen goet, timphan ma peugoet beu meutemeu rasa.” Artinya, hari baik dan bulan baik—merujuk pada momen hari raya—timphan buatan ibu harus bisa dirasakan.
Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, mengatakan timphan memiliki nilai emosional yang kuat bagi masyarakat Aceh. “Timphan memiliki nilai budaya dan emosional yang kuat bagi masyarakat Aceh. Karena itu, kuliner ini sangat potensial diperkenalkan kepada wisatawan,” kata Aidil, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, aroma harum daun pisang muda dan rasa manis srikaya di dalam timphan menjadi pengalaman kuliner yang khas. Sejumlah pelaku usaha di Banda Aceh dan Aceh Besar mulai menghadirkan wisata membuat timphan, di mana pengunjung diajak melihat langsung proses pembuatan dari awal hingga pengukusan.
“Banyak wisatawan tertarik karena bentuk dan rasanya unik, berbeda dengan kue tradisional daerah lain,” ujarnya.
Bagi perantau Aceh, timphan kerap menjadi pemantik rindu paling sederhana namun mendalam. Rasa timphan buatan ibu di kampung halaman sulit tergantikan, meski telah dicoba dibuat sendiri di tanah rantau.
Timphan kini tidak hanya ditemukan saat Lebaran. Kue ini mulai mudah dijumpai di pusat oleh-oleh, kedai kopi, hingga festival budaya di Aceh. Aidil berharap promosi ini dapat menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan ekonomi pelaku UMKM.
“Di balik balutan daun pisangnya, timphan menyimpan cerita tentang tradisi, keluarga, dan rasa rindu yang menjadi bagian dari identitas Aceh,” katanya.