TANAH JAMBO AYE — "Kamu enak ya ada mama, bisa dikawani sama mama, bisa dimasaki sama mama, bisa dipegang, bisa jalan-jalan sama mama, bisa dipeluk sama mama," ucap Sausan Sania, bocah 10 tahun asal Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, dalam sebuah kesempatan.
Kalimat itu keluar dari mulut seorang anak yang sejak November 2025 lalu kehilangan tiga anggota keluarganya sekaligus dalam bencana banjir bandang yang menerjang wilayahnya. Ibunya, neneknya, dan abangnya meninggal dunia saat air bah datang.
T. Zaman Huri, ayah Sausan, mengakui bahwa putrinya masih bergulat dengan rasa kehilangan yang mendalam. Enam bulan pascabencana, proses pemulihan psikis sang anak belum berjalan optimal.
"Dia berusaha melalui hari demi hari," kata Zaman menggambarkan kondisi Sausan saat ini. Bocah itu kini tinggal bersama ayahnya, seorang abang laki-laki, dan seorang adik perempuannya yang selamat dari terjangan banjir.
Banjir bandang yang melanda sejumlah titik di Aceh pada akhir tahun lalu tidak hanya meninggalkan kerusakan infrastruktur dan materi. Di Tanah Jambo Aye, bencana itu merenggut figur-figur penting dalam kehidupan seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Kehilangan simultan terhadap ibu, nenek, dan abang membuat Sausan harus beradaptasi dengan realitas baru di usianya yang masih sangat belia. Ayahnya kini menjadi satu-satunya orangtua yang tersisa untuk membesarkan Sausan dan kedua saudaranya.
Video dokumentasi proses pemulihan Sausan dan keluarganya diproduksi oleh Raja Eben Lumbanrau dan Andra Anhar. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dampak bencana alam tidak pernah berhenti pada angka kerugian material, melainkan juga pada luka batin yang membutuhkan waktu panjang untuk sembuh.