ACEH — Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan non-deliverable forward (NDF), rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS pada Selasa (16/4). Level ini menjadi yang terlemah sejak krisis moneter 1998 dan menandai tekanan terbesar terhadap mata uang Garuda dalam lebih dari dua dekade.
Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Indeks dolar AS (DXY) melonjak ke level 106,5, didorong oleh data inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi dan pernyataan hawkish pejabat Federal Reserve. Akibatnya, hampir seluruh mata uang Asia terdepresiasi, namun rupiah mencatat pelemahan paling dalam.
“Rupiah menjadi korban utama penguatan dolar karena pasar mulai mempertanyakan komitmen pemerintah baru terhadap disiplin fiskal,” ujar Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Faisal Rachman, dalam risetnya. Ia menambahkan, defisit APBN yang melebar dan rencana penerbitan utang baru turut memperburuk persepsi risiko.
Bank Indonesia (BI) langsung merespons dengan melakukan intervensi di pasar spot dan pasar obligasi. Deputi Gubernur BI, Juda Agung, menyatakan pihaknya telah menjual dolar AS melalui bank-bank BUMN untuk menahan laju pelemahan.
“Kami juga meminta korporasi yang memiliki utang dalam dolar untuk melakukan lindung nilai (hedging) secara disiplin,” kata Juda dalam konferensi pers virtual. Ia menegaskan BI akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas.
Namun, pelaku pasar menilai intervensi semacam ini hanya efektif dalam jangka pendek. “Selama fundamental fiskal belum membaik, tekanan terhadap rupiah akan terus ada,” kata Direktur Riset PT Samuel Sekuritas Indonesia, Muhammad Alfatih.
Bagi investor pasar modal, pelemahan rupiah menjadi sentimen negatif langsung. IHSG pada sesi perdagangan hari ini diperkirakan akan tertekan, terutama saham-saham yang memiliki beban utang dolar tinggi seperti sektor properti dan infrastruktur.
Sementara bagi importir, biaya bahan baku impor akan membengkak. Pelaku bisnis di sektor manufaktur dan ritel diprediksi akan menyesuaikan harga jual produk dalam waktu dekat. Sebaliknya, emiten berbasis ekspor seperti tekstil dan kelapa sawit justru diuntungkan oleh daya saing harga yang lebih baik di pasar global.
Investasi mengandung risiko.