ACEH — Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada Januari lalu menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur pertanian. Dinas Pertanian dan Pangan setempat mencatat, luasan lahan sawah yang terdampak mencapai 1.200 hektare dengan tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari sedimentasi lumpur hingga kerusakan saluran irigasi.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Tamiang, Teuku Zulkifli, menyatakan bahwa pekerjaan rehabilitasi difokuskan di tiga kecamatan yang mengalami dampak paling parah, yaitu Kecamatan Kejuruan Muda, Karang Baru, dan Bendahara. “Kami memprioritaskan lahan yang masih bisa diselamatkan untuk musim tanam berikutnya,” ujarnya.
Rehabilitasi mencakup normalisasi saluran irigasi tersier, pembersihan lahan dari endapan lumpur, serta perbaikan pematang sawah yang jebol. Proyek ini ditargetkan rampung dalam 90 hari ke depan agar petani bisa kembali menggarap sawahnya pada musim tanam April-September.
Banjir bandang yang dipicu meluapnya Sungai Tamiang dan Sungai Peureulak itu tidak hanya merusak lahan, tetapi juga menghancurkan tanaman padi yang siap panen. Berdasarkan data sementara dari gabungan kelompok tani (gapoktan), kerugian petani di tiga kecamatan diperkirakan mencapai Rp 15 miliar. Angka tersebut mencakup biaya produksi yang hilang dan potensi pendapatan yang tidak bisa diraih.
Pemerintah kabupaten telah mengalokasikan dana belanja tidak terduga (BTT) untuk tahap awal rehabilitasi. Namun, Teuku Zulkifli mengakui bahwa kebutuhan anggaran masih jauh lebih besar dibandingkan alokasi yang tersedia. “Kami sudah mengusulkan tambahan dana ke provinsi dan pusat,” katanya.
Meski pekerjaan rehabilitasi baru dimulai, sejumlah petani di Kecamatan Karang Baru sudah mulai membersihkan lahannya secara mandiri. “Kami tidak bisa menunggu terlalu lama. Kalau musim tanam terlewat, setahun tidak ada penghasilan,” ujar Syamsul Bahri, salah seorang petani setempat.
Syamsul menambahkan, bantuan benih dan pupuk dari pemerintah sangat dinantikan. Ia berharap pemerintah tidak hanya memperbaiki lahan, tetapi juga menyediakan sarana produksi yang murah agar petani bisa segera bangkit.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang berencana mengevaluasi hasil rehabilitasi pada akhir April untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan bantuan langsung tunai bagi petani yang lahannya belum bisa difungsikan hingga musim tanam berikutnya.