BANDA ACEH — Simpang Lima dan Simpang BPKP bukan sekadar persimpangan biasa. Keduanya menjadi titik di mana ribuan orang dari berbagai penjuru kota berhenti, menunggu lampu hijau, dan tanpa sadar mengarahkan pandangan ke atas. Di sanalah baliho-baliho berukuran besar berdiri, namun isinya kosong — hanya menyisakan papan yang menyatakan ruang itu bisa disewa.
Fenomena ini bukan soal papan reklame yang rusak atau terlupakan. Justru sebaliknya, ruang-ruang itu sengaja dikosongkan, menunggu penyewa yang mampu membayar. Namun di balik kekosongan itu, ada ironi yang jarang dibicarakan: seniman dan komunitas lokal Banda Aceh tidak memiliki akses ke titik-titik paling strategis di kota mereka sendiri.
Wadi, seorang seniman mural di Banda Aceh, sudah memilih medium yang paling publik yang ada: dinding. Karyanya tidak lagi berada di galeri atau di dalam feed media sosial yang sudah tersaring algoritma. Dinding-dinding itu bercerita di tempat orang lewat, bukan di tempat orang datang khusus untuk melihat.
Tapi dinding yang tersedia untuknya jauh dari simpang-simpang yang dilalui ribuan orang setiap hari. Paradoksnya persis di situ. Ia sudah keluar dari layar ponsel, namun akses ke titik yang benar-benar terlihat masih tertutup.
Puisi hidup di caption. Ilustrasi hidup di feed. Keduanya hanya dilihat oleh orang yang sudah memilih untuk melihat — sudah disaring algoritma sebelum sampai ke mata orang lain. Sementara baliho di simpang bekerja tanpa algoritma. Ia dilihat semua orang, tanpa pilihan, tanpa filter.
Ada pertanyaan mendasar yang jarang diajukan tentang simpang-simpang itu: nilai apa yang selama ini bekerja di balik keputusan siapa yang layak mengisi ruang tersebut? Selama ini jawabannya tunggal: yang layak adalah yang mampu membayar. Bukan karya yang paling relevan untuk kota ini. Bukan ekspresi yang paling mencerminkan siapa yang tinggal di sini.
Logika yang mengatur simpang-simpang Banda Aceh adalah logika iklan. Bukan logika komunitas, bukan logika budaya. Sistem ini sudah berjalan begitu lama sampai terasa seperti hukum alam, padahal ia adalah kesepakatan yang pernah dibuat manusia — dan bisa dipertanyakan manusia juga.
Setiap kali lampu merah menyala di simpang-simpang itu, ribuan mata melihat ke atas. Mereka menemukan ruang yang sedang menunggu tawaran yang lebih baik. Pertanyaan yang lebih menarik: kenapa ruang itu tidak dianggap tersedia untuk yang lain? Seniman, pendidik, komunitas yang punya sesuatu untuk ditunjukkan tapi anggaran penyewaannya jauh dari jangkauan.
Karya seni butuh mata. Bukan hanya mata yang datang ke galeri, atau mata yang memilih akun tertentu untuk diikuti. Tapi mata yang sedang dalam perjalanan, yang terpaksa berhenti karena lampu merah. Di situlah sesuatu bisa terjadi — jika ruangnya tersedia untuk mereka yang punya cerita, bukan hanya untuk mereka yang punya uang.