Motorola baru saja resmi meluncurkan Razr Ultra sebagai flagship foldable terbarunya, dan smartphone ini benar-benar punya senjata untuk bersaing dengan Galaxy Z Flip 7 milik Samsung. Namun, jika kamu adalah pembeli di Indonesia yang sensitif terhadap harga, Galaxy Z Flip 7 masih jadi pilihan logis karena jauh lebih terjangkau dan sudah tersedia di pasaran.
ACEH — Penulis ZDNET baru saja menghadiri acara Motorola di Hollywood dan berkesempatan mencoba Razr Ultra secara langsung. Berdasarkan pengalaman hands-on tersebut, ada beberapa area di mana foldable Motorola ini bisa unggul dari flagship Samsung — meski waktu testing belum cukup untuk review lengkap. Namun pertanyaan utama pembeli Indonesia tetap sama: berapa sih harganya, dan apakah worth it dibanding pilihan yang sudah ada?
Galaxy Z Flip 7 dijual resmi Samsung dengan harga $1.100 (sekitar Rp 17,6 juta). Angka itu pun bisa turun drastis melalui reseller pihak ketiga — Amazon misalnya menjual Galaxy Z Flip 6 dengan kapasitas 256GB di harga $900 (Rp 14,4 juta). Pembeli Indonesia yang memanfaatkan program trade-in atau refurbishment bahkan bisa mendapatkan perangkat ini di bawah Rp 14 juta, bahkan gratis melalui promosi operator seluler tertentu.
Berbeda dengan Motorola Razr Ultra, yang positioning-nya sebagai flagship membuat harganya jauh lebih premium. Meski spesifikasi Motorola tidak dipublikasikan sepenuhnya di bahan, track record seri Razr menunjukkan harga selalu berada di tier atas pasar foldable. Selisih harga ini menjadi hambatan besar bagi calon pembeli yang masih ragu dengan teknologi foldable.
Dari hands-on di Hollywood, jelas Motorola melakukan improvements signifikan di hardware Razr Ultra. Detail spesifiknya masih terbatas di publikasi, tapi pengalaman langsung menunjukkan positioning Motorola sebagai "solid foldable" yang bisa memberikan kompetisi nyata kepada Galaxy Z Flip 7 — yang diakui sebagai salah satu top Android phones di kelasnya.
Galaxy Z Flip 7 sendiri membawa tiga keunggulan solid: cover display 4.1 inci yang lebih besar dan terang (FlexWindow), baterai yang tahan lama (improvement signifikan dari generasi sebelumnya), dan desain super tipis 13.7mm. Ketiga faktor ini masih menjadi standar emas yang sulit ditiru kompetitor dalam waktu singkat.
Samsung punya keuntungan strategis yang sering terlewatkan: Galaxy AI suite yang diluncurkan tahun 2024. Fitur seperti Circle to Search memberikan ekosistem AI yang kohesif dan tidak ditemukan di perangkat Motorola — setidaknya belum jelas apakah Razr Ultra akan mendapat parity feature yang sama.
Ekosistem AI ini bukan sekadar gimmick. Bagi pengguna yang sudah dalam "taman Samsung" (tablet, smartwatch, earbuds), integrasi fitur AI membuat alur kerja lebih seamless dan produktif. Motorola masih perlu menunjukkan strategi AI yang sebanding untuk menjadi daya tarik bagi pembeli yang memprioritaskan ekosistem terpadu.
Jika budgetmu terbatas dan kamu butuh foldable sekarang, Galaxy Z Flip 7 tetap rekomendasi yang aman. Harganya lebih masuk akal untuk pasar Indonesia (bahkan ada deal di bawah Rp 14 juta), baterainya proven tahan lama, dan ekosistem AI Samsung sudah mature. Razr Ultra layak ditunggu untuk review lengkap, tapi tunggu sampai harga reveal dan ketersediaan di Indonesia sebelum membuat keputusan final.
Hingga saat penulisan artikel ini, Motorola belum mengumumkan ketersediaan resmi Razr Ultra di Indonesia. Peluncuran resmi baru terjadi beberapa minggu sebelum artikel ini ditulis, dengan detail harga global masih ditutup. Calon pembeli Indonesia perlu menunggu pengumuman official dari Motorola atau distributor resminya.
Perbedaan utama ada di baterai (durasi pakai lebih lama) dan desain yang lebih sleek. Spesifikasi core processor dan kamera relatif sama, sehingga jika kamu pemilik Flip 6, upgrade tidak mendesak kecuali battery life jadi prioritas utama sehari-hari kamu.
Untuk pengguna Indonesia, foldable masih tergolong luxury product. Sebelum membeli, pastikan kamu butuh form factor lipat untuk produktivitas atau hiburan — bukan sekadar mengikuti tren. Jika kebutuhan dasar cukup dengan smartphone biasa, alokasikan budget untuk device dan aksesori lain yang lebih mendukung aktivitas harian kamu.