Gen Z dan Milenial Dominasi 5,63 Juta Penduduk Aceh Hasil SUPAS 2025

Penulis: Ragil  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 15:48:54 WIB
Gen Z dan Milenial menguasai lebih dari separuh populasi Aceh menurut SUPAS 2025.

BANDA ACEH — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat laju pertumbuhan penduduk di Serambi Mekkah mengalami perlambatan dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, angka pertumbuhan kini berada di level 1,36 persen per tahun dengan total populasi menyentuh 5,631 juta jiwa.

Struktur kependudukan saat ini menunjukkan pergeseran besar ke arah generasi muda. Kelompok Gen Z memegang porsi terbesar yakni 27,01 persen, disusul kelompok Milenial sebesar 24,30 persen. Jika digabungkan, kedua generasi ini menguasai lebih dari 50 persen total penduduk di tingkat provinsi.

“Populasi saat ini didominasi oleh Gen Z sebesar 27,01 persen dan Milenial 24,30 persen yang mencakup lebih dari separuh penduduk,” kata Kepala BPS Aceh, Agus Andria, Rabu (6/5/2026).

Kelompok Usia Produktif Capai 67 Persen dari Total Populasi

Data terbaru menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun). Saat ini, kelompok tersebut mendominasi struktur usia dengan persentase mencapai 67,68 persen. Sebaliknya, proporsi penduduk usia muda (0-14 tahun) justru menyusut menjadi 26,30 persen.

Kondisi ini berdampak langsung pada angka beban ketergantungan (dependency ratio) yang terus melandai. Pada SUPAS 2025, rasio ketergantungan penduduk Aceh berada di angka 47,75. Secara matematis, setiap 100 penduduk usia produktif hanya menanggung beban sekitar 48 penduduk usia nonproduktif.

Meskipun jumlah penduduk lansia (65 tahun ke atas) meningkat menjadi 6,02 persen, Agus menegaskan bahwa Aceh belum masuk kategori daerah dengan penuaan penduduk. "Aceh masih belum memasuki fase penuaan penduduk (ageing population), karena proporsi lansia masih berada di bawah ambang batas 10 persen," ujarnya.

Angka Kelahiran Menurun dan Kualitas Kesehatan Bayi Membaik

Indikator kesehatan dan kelahiran di Aceh menunjukkan tren positif dalam lima tahun terakhir. Angka kelahiran kasar (CBR) tercatat sebesar 18,56 kelahiran hidup per 1.000 penduduk, atau turun 1,08 poin jika dibandingkan dengan hasil Long Form SP2020.

Selain penurunan angka kelahiran, tingkat kematian usia dini di Aceh juga mengalami perbaikan signifikan. Angka Kematian Bayi (IMR) kini turun menjadi 16,27, disusul Angka Kematian Anak (CMR) di posisi 2,68, serta Angka Kematian Balita (U5MR) sebesar 18,94 per 1.000 kelahiran hidup.

“Penurunan signifikan pada kematian bayi menjadi kontributor utama yang mendorong turunnya tingkat kematian balita secara keseluruhan,” jelas Agus Andria.

Mobilitas Tinggi di Banda Aceh dan Migrasi Keluar di Aceh Singkil

Dari sisi pergerakan penduduk, Kota Banda Aceh menjadi wilayah dengan dinamika mobilitas paling tinggi di provinsi tersebut. Ibu kota provinsi ini mencatat angka migrasi masuk seumur hidup sebesar 37,92 persen, meski angka migrasi keluarnya juga tergolong tinggi.

“Dengan mobilitas yang sangat dinamis tersebut, Banda Aceh mencatatkan angka migrasi neto yang tetap positif, tapi sangat tipis, yakni sebesar 0,03 persen,” ucap Agus.

Sementara itu, Kota Subulussalam menjadi daerah dengan penambahan penduduk akibat migrasi masuk tertinggi, yakni sebesar 3,54 persen. Kondisi kontras terjadi di Kabupaten Aceh Singkil yang mencatat migrasi neto negatif tertinggi sebesar -2,03 persen, yang menandakan adanya pengurangan penduduk akibat arus migrasi keluar dalam periode 2020-2025.

Reporter: Ragil
Back to top