KUTACANE — Tantangan pembangunan di Aceh memerlukan kolaborasi nyata antar-elit politik tanpa terjebak dalam kepentingan praktis. Aktivis sekaligus Bupati Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Aceh Tenggara, M. Saleh Selian, mengingatkan bahwa ego sektoral hanya akan menghambat kemajuan daerah.
Menurut Saleh, kemajuan daerah mustahil tercapai jika para pejabat lebih sibuk dengan perbedaan kepentingan atau saling menjatuhkan. Ia menegaskan bahwa setiap pejabat publik memikul tanggung jawab moral untuk menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok politik.
Saleh menilai bahwa ketika kepentingan rakyat dicampuradukkan dengan agenda politik, arah pembangunan menjadi tidak menentu. Kondisi ini sering kali mengakibatkan program-program strategis tersendat, sehingga daerah hanya berjalan di tempat tanpa ada lompatan kemajuan yang signifikan.
“Pada kesempatan ini, kami dari LIRA ingin menyampaikan harapan agar para pejabat di Aceh tetap menjaga kekompakan dan membangun daerah secara bersama-sama. Niscaya daerah akan maju apabila para pejabatnya solid, saling mendukung, dan tidak terjebak dalam gontok-gontokan,” ujar M. Saleh Selian pada Rabu (6/5/2026).
Sinergi yang harmonis antara eksekutif dan legislatif dianggap sebagai prasyarat mutlak. Jika kedua lembaga ini mampu bekerja sama secara terbuka dan saling menghormati peran masing-masing, maka kebijakan yang dilahirkan akan lebih terarah dan berpihak pada masyarakat luas.
Saat ini, masyarakat Aceh tengah menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat. Saleh menekankan bahwa fokus pemerintah seharusnya tertuju pada langkah-langkah nyata untuk memperbaiki kondisi daerah, terutama dalam aspek pemulihan ekonomi dan penanganan infrastruktur setelah musibah banjir.
“Daerah akan maju dan rakyat akan makmur jika pejabat eksekutif dan legislatif kompak berkolaborasi membangun daerah, serta tidak mudah terpengaruh oleh bisikan-bisikan dari luar pemerintahan. Saat ini rakyat tidak membutuhkan pertikaian elit, melainkan kesejahteraan, keadilan pembangunan, dan pemulihan ekonomi, terutama pasca banjir,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat membutuhkan kepemimpinan yang tenang dan solutif. Pertunjukan perbedaan pendapat di ruang publik yang memicu kegaduhan hanya akan menambah beban psikologis warga yang sedang berjuang memperbaiki taraf hidup mereka.
Pesan ini disampaikan Saleh di sela-sela agenda pelepasan jemaah haji kloter pertama di Asrama Haji, Selasa (5/5/2026) sore. Ia berharap momentum keberangkatan tamu Allah tersebut juga membawa semangat pembersihan hati bagi para pemangku kebijakan di Tanah Rencong.
LIRA mendorong adanya penguatan koordinasi lintas instansi agar setiap program kerja dapat dirasakan manfaatnya secara merata. Fokus pada kerja nyata dianggap jauh lebih mendesak dibandingkan memelihara konflik kepentingan yang tidak produktif.
“Rakyat berharap para elite Aceh bersatu dan memikirkan masa depan daerah dengan lebih baik. Sudah saatnya semua pihak mengedepankan kepentingan bersama, memperkuat koordinasi, dan fokus pada kerja-kerja nyata demi kesejahteraan masyarakat,” pungkas Saleh.