Exchange Fund Hong Kong mencatat keuntungan investasi sebesar HK$34,5 miliar pada kuartal pertama 2024 di tengah ketidakpastian akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Penurunan performa sebesar 56 persen ini mencerminkan volatilitas pasar global yang turut memengaruhi stabilitas arus modal di kawasan Asia, termasuk sentimen investasi di Indonesia.
Hong Kong Monetary Authority (HKMA) melaporkan perolehan laba investasi Exchange Fund yang menyusut drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dana cadangan yang berfungsi sebagai pelindung nilai mata uang dolar Hong Kong ini hanya mengantongi HK$34,5 miliar (sekitar Rp70,3 triliun) pada tiga bulan pertama tahun ini.
Angka tersebut merosot 56 persen dari perolehan HK$79,2 miliar pada kuartal pertama tahun sebelumnya. Meski tetap mencatatkan pertumbuhan positif selama lima kuartal berturut-turut, hasil ini menjadi pencapaian terendah dalam periode tersebut. Gejolak geopolitik menjadi faktor utama yang memaksa investor beralih dari aset berisiko ke aset yang lebih aman (safe haven).
Eskalasi konflik di Timur Tengah yang memuncak pada akhir Februari hingga Maret memicu kepanikan di bursa saham global. Investor secara masif memindahkan aset mereka ke bentuk tunai atau instrumen yang dianggap lebih stabil. Eddie Yue Wai-man, Chief Executive HKMA, menggambarkan situasi pasar seperti wahana roller coaster dalam pertemuan kuartalan bersama anggota parlemen, Senin (6/5).
"Konflik Timur Tengah membuat pasar saham global jatuh hingga 10 persen pada bulan Maret. Meskipun sempat ada harapan gencatan senjata pada April yang memicu rebound, prospek ke depan masih penuh dengan ketidakpastian," ujar Eddie Yue.
Kondisi ini diperparah dengan spekulasi suku bunga global. Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan di wilayah produsen energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi. Dampaknya, ekspektasi pasar terhadap pemotongan suku bunga acuan tahun ini mulai memudar, karena bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi untuk meredam laju inflasi.
Hingga akhir Maret, total aset Exchange Fund Hong Kong tercatat sebesar HK$4,34 triliun. Nilai ini naik tipis HK$19 miliar sejak akhir tahun lalu. Namun, performa di sektor saham domestik menunjukkan rapor merah yang cukup signifikan.
Kerugian pada investasi saham lokal menghapus keuntungan yang sempat diraih pada dua bulan pertama tahun ini. Secara keseluruhan, indeks Hang Seng mencatatkan penurunan 3,3 persen sepanjang kuartal pertama 2024.
Situasi yang dialami Hong Kong memberikan sinyal peringatan bagi pasar modal Indonesia. Sebagai salah satu pusat finansial terbesar di Asia, pergerakan Exchange Fund Hong Kong sering kali menjadi indikator selera risiko investor asing di kawasan regional. Tekanan pada bursa Hang Seng biasanya diikuti oleh penyesuaian portofolio investor institusi di pasar berkembang seperti IHSG.
Ketidakpastian suku bunga yang disinggung HKMA juga relevan dengan kebijakan Bank Indonesia. Selama harga minyak dunia tetap tinggi akibat konflik, tekanan terhadap rupiah akan terus ada. Investor di Indonesia perlu mewaspadai volatilitas pada sektor perbankan dan teknologi yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga dan arus modal asing.
Meskipun tekanan eksternal begitu kuat, Eddie Yue menegaskan bahwa ekonomi lokal dan pasar modal tetap memiliki resiliensi. Aktivitas pasar perdana (IPO) di Hong Kong diklaim masih aktif, sementara sektor properti mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pasca-relaksasi kebijakan pemerintah setempat.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik terbaru. Jika tensi di Timur Tengah mereda, ada peluang bagi dana cadangan dan pasar saham Asia untuk mencatatkan pemulihan pada kuartal kedua, meski tetap dalam pengawasan ketat regulator keuangan.