Generasi muda di Aceh mulai mempelajari seni merangkai sirih atau meususon ranup melalui workshop intensif untuk menjaga keberlangsungan tradisi lokal. Kegiatan dua hari ini merupakan program hibah Kementerian Kebudayaan yang bertujuan membekali Gen Z dengan keterampilan praktis melestarikan identitas budaya daerah.
BANDA ACEH — Puluhan anak muda dari kalangan Generasi Z di Aceh mengikuti workshop khusus meususon ranup selama dua hari untuk mendalami seni merangkai sirih tradisional. Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam memastikan warisan leluhur tetap relevan dan dikenal oleh generasi termuda di tengah arus modernisasi.
Program yang berlangsung dengan antusiasme tinggi ini merupakan bagian dari inisiatif dana hibah Kementerian Kebudayaan. Penyelenggara memfokuskan kegiatan pada edukasi praktis, mengingat meususon ranup bukan sekadar menyusun daun, melainkan simbol penghormatan dalam adat istiadat Aceh.
Muhammad Ridha, salah satu tim penyelenggara, menjelaskan bahwa workshop ini dirancang sebagai jembatan komunikasi budaya antar generasi. Fokus utama mereka adalah Generasi Z yang selama ini mungkin hanya melihat hasil jadi rangkaian sirih tanpa memahami proses pembuatannya.
“Kegiatan ini merupakan program dana hibah dari Kementerian Kebudayaan, dan kita adakan workshop ini untuk memperkenalkan budaya meususon ranup terutama kepada generasi Z ini,” ujar Ridha di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, pengenalan sejak dini sangat krusial agar tradisi ini tidak hanya menjadi pajangan di museum, tetapi tetap hidup dalam praktik keseharian masyarakat. Ridha menekankan bahwa keberlangsungan budaya lokal sangat bergantung pada ketertarikan dan keterlibatan anak muda hari ini.
Respon positif datang dari para peserta yang mengikuti rangkaian kelas selama dua hari tersebut. Banyak dari mereka yang sebelumnya sama sekali tidak memahami teknik melipat sirih yang benar sesuai pakem adat Aceh.
Zakia, salah satu peserta workshop, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dan keterampilan baru yang sangat praktis. Ia merasa puas karena workshop ini memberikan bimbingan intensif hingga peserta benar-benar mampu menghasilkan karya sendiri.
“Hasilnya memuaskan dan sesuai seperti yang kami harapkan, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu cara melipat dan menyusunnya sekarang sudah bisa,” ungkap Zakia dengan bangga. Ia berharap kemampuan ini bisa terus ia asah dan dibagikan kepada rekan sebaya lainnya.
Upaya pelestarian ini tidak berhenti pada pelatihan teknis semata. Penyelenggara telah menyiapkan rangkaian acara lanjutan untuk memperdalam pemahaman filosofis mengenai adat Aceh melalui forum diskusi yang lebih formal.
Rencananya, agenda berikutnya akan melibatkan forum diskusi budaya yang lebih luas. Kegiatan ini bertujuan untuk membedah nilai-nilai di balik tradisi meususon ranup agar peserta tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga paham maknanya.
“Kita berharap budaya ini tidak hilang, dan besok juga ada kegiatan FGD atau meuseuraya adat di Poltekkes Aceh. Serangkaian acaranya kita ada pemutaran film, diskusi-diskusi juga,” jelas Ridha mengenai agenda penutup program tersebut.
Meususon ranup merupakan bagian tak terpisahkan dari berbagai prosesi adat di Aceh, mulai dari upacara pernikahan hingga penyambutan tamu kehormatan. Keberadaan perangkai sirih muda menjadi jaminan bahwa identitas budaya Aceh akan tetap terjaga di masa depan.
Keterlibatan aktif Generasi Z seperti Zakia memberikan harapan baru bagi dunia kebudayaan di Aceh. Zakia juga menitipkan pesan penting bagi generasinya agar tidak malu mempelajari hal-hal yang bersifat tradisional.
“Semoga anak muda sekarang bisa merangkai ranup ini, agar budaya ini tidak hilang,” tambah Zakia menutup pembicaraan. Workshop ini membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, tradisi lama tetap bisa menarik minat generasi paling modern sekalipun.