Banda Aceh — Aksi May Day yang digelar di Banda Aceh menghadirkan sejumlah tuntutan konkret dari kalangan buruh kepada pemerintah daerah. Ratusan peserta demonstrasi memulai aksi dari Taman Bustanussalatin, kemudian melakukan konvoi menuju Simpang Lima sebelum melakukan orasi di depan Gedung DPR Aceh.
Ketua Aliansi Buruh Aceh, Drs. Tgk. Syaiful Mar, mengemukakan persoalan mendasar yang dihadapi para pekerja. "Buruh kalau disuruh melapor rasa takutnya luar biasa. Karena itu, Disnaker harus jemput bola, jangan menunggu laporan," ujar Syaiful.
Menurutnya, minimnya pemahaman hukum dan ketakutan akan konsekuensi membuat buruh memilih diam atas pelanggaran hak-hak mereka. Oleh karena itu, Syaiful menekankan bahwa pemerintah wajib memastikan perusahaan menjalankan ketentuan ketenagakerjaan, termasuk terpenuhinya upah minimum yang saat ini di Aceh ditetapkan sebesar Rp3.964.000.
Buruh juga mendesak kenaikan Upah Minimum Provinsi Aceh secara signifikan setiap tahunnya. Syaiful berpendapat bahwa Aceh memiliki kekhususan berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), sehingga kebijakan ketenagakerjaan tidak bisa disamakan dengan daerah lain. "UMP Aceh harus naik setiap tahun. Kita punya kekhususan yang harus berpihak pada pekerja lokal," tegasnya.
Selain itu, Aliansi Buruh Aceh menuntut penghapusan sistem kerja outsourcing yang dinilai merugikan dan tidak sesuai dengan kondisi perusahaan di Aceh yang mayoritas berskala menengah. "Kami ingin tidak ada lagi outsourcing di Aceh. Ini justru memperpanjang pengangguran dan kemiskinan," ujar Syaiful.
Massa aksi juga menyoroti Peraturan Gubernur Nomor 2 Tahun 2006 yang dianggap tidak lagi berpihak pada masyarakat. Aliansi Buruh Aceh telah bersepakat dengan DPR Aceh untuk mendorong pencabutan aturan tersebut sebagai bagian dari komitmen melindungi kepentingan pekerja lokal.
"Seharusnya Aceh menjadi role model nasional, namun aturan itu justru memicu protes karena menyengsarakan. Pemerintah yang memulai, pemerintah juga yang harus mengakhiri," tambah Syaiful.
Buruh menegaskan akan terus mengawal tuntutan-tuntutan mereka hingga mendapatkan respons konkret dari pemerintah daerah. Selain unjuk rasa, kegiatan May Day juga mencakup aksi sosial berupa donor darah, menunjukkan solidaritas buruh terhadap komunitas yang lebih luas.