Akademisi UBBG Sebut Riset Epidemiologi Kunci Cegah Kanker di Aceh, Soroti Pemerataan Ahli Onkologi

Penulis: Saiful  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 10:46:31 WIB
Akademisi UBBG Arza Rufli menyampaikan pentingnya riset epidemiologi dalam upaya pencegahan kanker di Aceh.

BANDA ACEH — Arza Rufli menyampaikan hal itu dalam wawancara bersama Nukilan.id, Selasa (27/10/2026). Menurutnya, hasil riset akademisi sudah menjadi dasar penyediaan data dan rekomendasi berbasis bukti bagi pemerintah daerah. Namun pemanfaatan temuan itu dalam kebijakan publik masih perlu diperkuat.

Ia menilai integrasi hasil penelitian ke strategi pencegahan penyakit tidak menular belum berjalan optimal. Temuan akademisi belum sepenuhnya masuk ke lingkungan dinas kesehatan maupun fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Riset Akademisi Sudah Petakan Tren Kasus hingga Faktor Risiko Lokal

Arza menyebut para akademisi dari institusi pendidikan tinggi dan pusat studi kesehatan konsisten melakukan penelitian ilmiah. Riset itu mencakup pemetaan tren kasus, analisis faktor risiko lokal, dan evaluasi efektivitas penanganan klinis di pusat rujukan.

"Para akademisi dari institusi pendidikan tinggi dan pusat studi kesehatan secara konsisten telah melakukan berbagai penelitian ilmiah untuk memetakan trend kasus, menganalisis faktor risiko lokal, serta mengevaluasi efektivitas penanganan klinis di pusat rujukan seperti RSUD dr. Zainoel Abidin," kata Arza.

Melalui Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, kampus juga aktif menyosialisasikan bahaya kanker. Materi yang disampaikan mencakup cara menghindari faktor risiko dan upaya menghilangkan stigma negatif terhadap penderita.

Skrining Berkala di Puskesmas Jadi Rekomendasi Utama

Arza mendorong Pemerintah Aceh mengambil langkah taktis dan strategis untuk memperkuat pencegahan kanker. Rekomendasi pertama adalah mengoptimalkan peran puskesmas dalam skrining berkala dan berkelanjutan.

Skrining tersebut antara lain melalui tes IVA, HPV DNA, serta pemeriksaan klinis payudara. Layanan kesehatan primer dinilai menjadi pintu masuk paling efektif untuk deteksi dini.

Ahli Onkologi Diminta Tak Menumpuk di Banda Aceh

Rekomendasi kedua menyoroti pemerataan akses layanan dan fasilitas rujukan regional. Arza menekankan perlunya investasi serta distribusi tenaga spesialis onkologi dan fasilitas diagnostik ke rumah sakit rujukan di berbagai wilayah.

Wilayah yang dimaksud mencakup kawasan pesisir barat-selatan dan wilayah tengah Aceh. Selama ini pasien dari daerah tersebut harus menempuh perjalanan jauh untuk berobat.

"Pemerataan tersebut diharapkan dapat mengurangi penumpukan pasien di rumah sakit rujukan serta menekan biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan di Banda Aceh," ungkapnya.

Anggaran Preventif dan Pengendalian Tembakau Perlu Diperluas

Rekomendasi ketiga adalah integrasi kebijakan promotif dan preventif melalui perluasan alokasi anggaran serta program intervensi kesehatan. Program diarahkan pada edukasi pola hidup sehat dan pengendalian tembakau.

Arza juga menyoroti peningkatan literasi masyarakat terkait gizi dan keamanan pangan. Menurutnya, tiga langkah itu harus berjalan bersamaan agar upaya pencegahan tidak berhenti di tingkat wacana.

"Terakhir yang harus dilakukan berupa Integrasi Kebijakan Promotif-Preventif dilaksanakan guna memperluas alokasi anggaran dan program intervensi kesehatan yang berfokus pada edukasi gaya hidup sehat, pengendalian tembakau, serta peningkatan literasi gizi dan keamanan pangan di tengah masyarakat," pungkasnya.

Reporter: Saiful
Sumber: nukilan.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top