ACEH SELATAN — Banjir merendam Gampong Gunong Pulo dan Krueng Batee di Kecamatan Kluet Utara, serta Gampong Mersak dan Malaka di Kecamatan Kluet Tengah. Ketinggian air mencapai sepaha orang dewasa, menurut laporan BPBD Kabupaten Aceh Selatan.
Hujan lebat sejak Sabtu (24/10) membuat air dari sejumlah DAS di wilayah itu meluap hingga menggenangi permukiman warga. Jalan nasional Tapaktuan-Subulussalam ikut terendam, tetapi arus kendaraan masih lancar.
Selain banjir, dua titik longsor terjadi di jalan lintas Gunung Manggamat menuju Kotafajar, Kecamatan Kluet Selatan. Tim BPBD mengerahkan dua unit armada damkar untuk membersihkan material lumpur.
"Hingga saat ini, banjir masih menggenangi di sejumlah lokasi terdampak bencana tersebut. Hujan lebat juga masih berlangsung di wilayah banjir," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Selatan Mudatsir.
Mudatsir mengingatkan warga di wilayah terdampak tetap waspada, terutama bila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, jebolnya tanggul sungai di Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara, menggenangi areal persawahan Desa Teluk Halban tepat saat padi memasuki masa panen. Petani baru bisa memulai panen bertahap pada hari kesembilan.
"Sudah lebih dari sepekan sawah terendam. Awalnya ketinggian air sekitar satu meter lebih sehingga kami belum bisa memanen padi," kata Sugiono (36), petani Desa Teluk Halban.
Batang padi mulai membusuk dan bulirnya berguguran. Petani memanen dengan sabit dari atas perahu karet atau perahu terpal karena mesin combine tidak bisa beroperasi di genangan.
Tenaga kerja pun sulit didapat. Air yang berbau dan menimbulkan rasa gatal membuat banyak pekerja menolak turun ke sawah.
Sebelum banjir, biaya panen mencapai Rp 150 ribu per rantai. Kini petani dan pekerja memilih sistem bagi hasil, masing-masing 50 persen dari hasil panen.
"Kalau tidak menggunakan sistem bagi hasil, padi kami terancam membusuk begitu saja karena tidak ada yang sanggup memanennya," ujar Sugiono, yang juga Koordinator Kecamatan Kelompok Tani Merdeka.
Areal terdampak dikelola empat kelompok tani dengan luas masing-masing sekitar 25 hektare dan melibatkan lebih dari 100 petani. Petani sempat bergotong royong memperkuat tanggul seadanya, tetapi aliran air tidak terbendung.
Datok Penghulu Desa Teluk Halban Abdullah Boyak menyebut genangan mulai surut, tetapi sebagian besar sawah masih terendam karena air belum mengalir keluar optimal. Dari 62 hektare lahan produktif dengan pola tanam dua kali setahun, sekitar 70 persen terdampak.
Banjir juga mengancam lahan percontohan penerapan teknologi pertanian (PMAAS) seluas sekitar satu hektare yang ditanami Juli lalu. Padi di lahan itu sudah menguning tetapi belum bisa dipanen.
"Percepatan penanganan tanggul sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian petani, terutama ketika banjir terjadi menjelang masa panen," kata Abdullah.
Plt Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan Aceh Tamiang Irwan Hadi membenarkan dampak tanggul jebol terhadap ratusan hektare sawah di wilayah pesisir. Pertanian menjadi sumber penghidupan utama sebagian besar warga Teluk Halban, sehingga panen yang tertunda langsung memukul pendapatan harian mereka.