BANDA ACEH — BPMA menindaklanjuti tahapan penanganan sumur masyarakat dengan membidik peluang pengembangan gas bumi di dua struktur lepas pantai. Pembahasan teknis bersama Conrad Asia Ltd berlangsung dua hari di Jakarta, melibatkan tim perencanaan BPMA dan tim teknis kontraktor.
Kepala BPMA Mawardi Nur hadir langsung dalam workshop tersebut. Ia didampingi Deputi Perencanaan Afrul Wahyuni, Kepala Divisi Perencanaan Eksplorasi dan Eksploitasi Teuku Rizky, serta Kepala Divisi Teknologi dan Pengembangan Lapangan Arie Fahdhomi.
Dari pihak Conrad Asia Ltd, hadir General Manager Eryanto Effendi dan Exploration Manager Minarwan bersama tim teknis terkait.
Data historis menjadi salah satu referensi awal evaluasi. Sumur Singkil-1 yang dibor pada 1973 tercatat mengalirkan gas 10,06 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).
Sumur Meulaboh-1 yang dibor pada 1970 mencatat aliran 6,7 MMSCFD. Dua angka itu muncul dalam pemaparan workshop sebagai bahan pembanding awal.
BPMA menegaskan angka aliran historis belum bisa dianggap cadangan siap produksi. Kajian teknis lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan besaran sumber daya, karakteristik reservoir, potensi produktivitas, hingga kelayakan komersial.
Workshop PSE menjadi pintu sebelum tahapan berikutnya menuju rencana pengembangan lapangan atau Plan of Development (POD). Pintu itu hanya terbuka bila persyaratan teknis dan keekonomian terpenuhi.
Mawardi menyebut percepatan evaluasi sebagai langkah penting agar potensi migas Aceh dapat dinilai dan dimanfaatkan secara optimal.
"Kita ingin memastikan proses pengembangan potensi migas Aceh dapat berjalan lebih cepat, khususnya pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Percepatan ini penting agar potensi sumber daya migas Aceh dapat segera dievaluasi dan ditindaklanjuti secara optimal," ujar Mawardi.
Ia menekankan setiap tahapan harus berjalan terukur berdasarkan kajian teknis. Kelayakan komersial dan pemenuhan seluruh ketentuan yang berlaku tetap jadi syarat.
Rencana pengembangan lapangan tidak bisa bertumpu pada indikasi potensi sumber daya saja. Mawardi menyebut evaluasi menyeluruh terhadap aspek teknis, karakteristik reservoir, dan keekonomian menjadi dasar penentu kelayakan suatu struktur.
Koordinasi BPMA dan kontraktor disebut sebagai bagian penting agar setiap keputusan didukung data dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.
BPMA juga menegaskan pentingnya pelaksanaan sisa Komitmen Pasti sesuai jadwal yang disepakati. Kewajiban kegiatan eksplorasi itu harus tetap dijalankan kontraktor sesuai ketentuan kontrak.
Artinya, evaluasi potensi pengembangan dan pemenuhan komitmen eksplorasi berjalan beriringan. Proses pencarian sumber daya tidak berhenti pada identifikasi potensi, tetapi berlanjut melalui tahapan kerja yang jelas.
BPMA menyatakan akan terus mengawal evaluasi dan persiapan pengembangan di Struktur Singkil dan Meulaboh. Bila kajian lanjutan menunjukkan potensi memadai, kedua struktur berpeluang menambah pasokan gas pada masa mendatang.