ACEH — Grab dan OVO menyediakan sistem digital untuk program Makan Bergizi Gratis, mulai dari pemesanan menu oleh sekolah hingga pelaporan kekurangan distribusi. Sistem ini digunakan di Sekolah Khusus Negeri 01 Tangerang Selatan dan telah berjalan sejak April 2025. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital menilai teknologi tersebut berpotensi diadopsi pemerintah untuk memperkuat pemantauan program MBG.
Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Khusus Negeri 01 Tangerang Selatan tidak lagi bergantung pada pencatatan manual. Sekolah memesan menu untuk sepekan ke depan melalui aplikasi yang disiapkan Grab, lalu proses pengiriman melibatkan mitra pengemudi perusahaan tersebut hingga tahap pelaporan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Angga Raka Prabowo menyaksikan langsung alur kerja sistem itu saat mengunjungi sekolah tersebut. Ia menyebut seluruh proses berjalan penuh secara digital, dari pemesanan hingga makanan diterima siswa.
Menurut Angga, sekolah menggunakan aplikasi Grab untuk memesan menu selama sepekan ke depan. Setelah pesanan masuk, pengiriman makanan melibatkan mitra pengemudi Grab sampai makanan tiba di lokasi.
Sistem yang sama juga menyediakan mekanisme pelaporan jika ditemukan kekurangan pada menu yang dikirim. Dengan begitu, setiap masalah distribusi bisa tercatat dan ditindaklanjuti, bukan hanya diselesaikan secara lisan.
"Dari hasil kunjungan saya hari ini, tadi kita lihat prosesnya semuanya full digital. Dari mulai proses pemesanan, sekolah menggunakan aplikasi yang disiapkan oleh Grab untuk memesan menu seminggu ke depan," ujar Angga.
Ia menambahkan, proses delivery melibatkan mitra Grab hingga tahap pelaporan. "Apabila ada kekurangan dalam menu, ada proses pelaporannya," katanya.
Selain aspek teknologi, pelaksanaan MBG di sekolah tersebut tetap mengacu pada standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN). Standar itu mencakup gizi, higienitas, hingga kualitas makanan yang diterima siswa.
Angga menegaskan, Grab dan OVO mengikuti seluruh ketentuan tersebut. "Pihak Grab dan OVO mengikuti standar yang ditentukan oleh BGN. Tentunya sama dari mulai standar gizi, higienitas, sampai makanan itu bisa sampai ke anak-anak," ucapnya.
CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi menjelaskan, program MBG di sekolah tersebut dijalankan bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa. Pendanaannya berasal dari dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) Grab dan OVO.
"Ini adalah bagian dari komitmen Grab OVO bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa untuk ikut serta dalam program MBG, yang kami lakukan berdasarkan CSR kami. Jadi kami menggunakan dana CSR untuk memberikan MBG kepada adik-adik yang berkebutuhan khusus," kata Neneng.
Program di sekolah berkebutuhan khusus itu telah berjalan sejak April 2025 dan akan terus dilanjutkan. Sekolah Khusus Negeri 01 Tangerang Selatan menjadi contoh bagaimana layanan ride-hailing dan platform pembayaran digital memperluas peran ke sektor pangan publik.
Angga menyatakan, sistem yang digunakan Grab dan OVO berpotensi menjadi bahan pembelajaran bagi pemerintah. Ia menyoroti dua aspek utama, yakni pemantauan dan penyediaan makanan oleh BGN.
"Tentunya dari sisi monitoring, dari sisi penyediaan makanan, teknologi yang bisa nantinya kita adopsi. Ini kan untuk kebaikan semua," kata Angga.
Jika diadopsi, pola serupa bisa mempercepat pelaporan dan pengawasan distribusi MBG di sekolah-sekolah lain. Pendekatannya menggabungkan aplikasi pemesanan, armada pengiriman, dan kanal pelaporan dalam satu alur kerja.
Bagi Grab dan OVO, keterlibatan ini memperlihatkan perluasan fungsi platform di luar layanan transportasi dan pembayaran. Kolaborasi dengan yayasan dan lembaga negara menjadi jalur masuk layanan digital ke program sosial berskala nasional.