BANDA ACEH — Kick-off Laycar Championship 2026 ditandai tendangan pertama Sekretaris KSMI Aceh Muhammad Zubir bersama Anggota DPRK Banda Aceh Tuanku Muhammad. Pembukaan dipimpin Zubir bersama Wakil Ketua KSMI Aceh Saifulallah, Wakil Sekretaris Muhammad Hasan, dan Tuanku Muhammad. Setelah itu, persaingan 16 klub resmi dimulai untuk memperebutkan gelar juara.
Laycar Championship 2026 menjadi turnamen pertama yang digelar langsung KSMI Aceh sejak kepengurusan terbentuk. Kompetisi berlangsung selama tiga hari di AR Minisoccer, Mibo, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh.
Peserta datang dari tiga wilayah: Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang. Format ini memberi ruang bagi klub-klub sepakbola mini lintas kabupaten/kota untuk bertemu dalam satu panggung kompetisi yang rutin dan terukur.
Ketua Badan Liga KSMI Aceh sekaligus Ketua Panitia, Charles Wibawa, menegaskan turnamen ini bukan hanya arena perebutan trofi. Menurutnya, kompetisi ini menjadi panggung bagi pemain untuk menunjukkan kemampuan dan membuka peluang menuju level kompetisi yang lebih tinggi.
"KSMI Aceh hadir membangun ekosistem sepakbola mini di daerah. Bukan sekadar mencari juara, tetapi membuka ruang lahirnya talenta-talenta muda yang berkemampuan, berkarakter dan tangguh," ujar Charles.
Ia menilai perkembangan sepakbola mini di Aceh semakin membuka peluang pembinaan atlet secara lebih luas. Kompetisi yang rutin dan terukur dinilai penting untuk menemukan pemain potensial sekaligus membangun budaya kompetisi yang sehat.
"Sepakbola mini berkembang pesat. Ini peluang besar bagi Aceh menjadikannya sebagai wadah pembinaan atlet dan prestasi," katanya.
Charles menegaskan persaingan di lapangan harus tetap berada dalam koridor sportivitas. Setiap tim dituntut bermain disiplin, menghormati lawan, dan menjaga semangat persaudaraan.
"Menang adalah tujuan, tetapi sportivitas dan kebersamaan yang dibawa pulang adalah yang paling berharga. Kami berharap dari sini lahir pemain yang mampu mengangkat nama Aceh hingga tingkat nasional," ujarnya.
Dari lapangan minisoccer Mibo, talenta-talenta Aceh mulai diuji—bukan hanya soal siapa yang paling tajam mencetak gol, tetapi siapa yang mampu tampil konsisten, disiplin dan sportif hingga peluit akhir.
"Trofi menjadi target, tetapi masa depan sepakbola mini Aceh menjadi taruhan yang lebih besar," pungkas Zubir.