PADANG PANJANG — Komunitas Seni Kuflet menjadi tempat berlabuh Sastrawan dan Duta Baca Indonesia Gol A Gong dalam rangkaian Safari Literasi Keliling Sumatera. Pertemuan itu turut dihadiri Sastrawan Adri Sandra, Perupa Hamzah, Pembina Kuflet yang juga Founder Sekolah Menulis elipsis Muhammad Subhan, Nanik Muis, Marlon Geraadts dari Belanda, serta sejumlah guru dan pegiat literasi.
Kabid Humas Komunitas Seni Kuflet Fadhil Muhammad Ihsan menyampaikan bahwa kegiatan ini dimoderatori langsung oleh Muhammad Subhan. Selain dari Padang Panjang, hadir pula Eni Warni guru dari Lintau, Yuni, dan Ida Herida bersama keluarga besar Kuflet.
Ketua harian Kuflet Nofal Dwi Saputra mengungkapkan rasa terima kasihnya karena Gol A Gong memilih Kuflet sebagai tempat berlabuh dan berbagi. "Semoga pertemuan ini tidak hanya menjadi sebuah kegiatan, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar pikiran, pengalaman, serta menumbuhkan semangat berkesenian dan berkarya," tuturnya.
Pendiri sekaligus penasihat Komunitas Seni Kuflet Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., menilai kegiatan itu bermanfaat bagi generasi muda Kuflet khususnya dan pegiat literasi di Kota Padang Panjang. Menurutnya, mengetahui proses kreatif pengarang dapat menjadi motivasi berharga untuk menjadi penulis tangguh.
Gol A Gong membuka diskusi dengan cerita masa lalunya sebagai atlet badminton disabilitas yang pernah menjadi juara dunia. Saat kehilangan tangan, ayahnya yang berprofesi guru olahraga berpesan agar dirinya tidak kehilangan cita-cita.
"Perjumpaan dengan para novelis membuka pikiran bahwa menulis itu bisa menjadi kita dikenal dunia. Ketika saya menjadi wartawan jiwa membaca itu yang membawa pada keberhasilan. Setelah kehilangan tangan kanan mulailah membaca 1 buku 1 hari. Jadi, jangan takut untuk punya kekurangan kalau kamu punya kelebihan," tegas Founder Rumah Dunia itu.
Moderator Muhammad Subhan mengulik latar belakang Gol A Gong yang awalnya seorang atlet badminton kemudian beralih menjadi penulis. Gol A Gong lantas menjelaskan asal muasal namanya, ketika orang tuanya mengetahui dirinya menjadi penulis, sang ayah berseru "Gol" dan ibunya berpesan agar karyanya seperti bunyi gong yang menggema. Nama itu juga dimaknai sebagai semua kesuksesan berasal dari Allah.
Yuni, peserta yang merupakan guru SMKN 1 Padang Panjang, bertanya soal riset dalam membuat novel yang jika dikembangkan bisa jadi tidak valid. Gol A Gong menjelaskan bahwa terkadang dalam menulis, orang lupa bahwa yang ditulis justru bukan novel melainkan kisah hidup dirinya dan orang lain.
Menurutnya, dalam menulis novel ada unsur intrinsik, bagaimana menyusun transisi dari chapter 1 ke chapter 2, plot twist, dan memahami penyusunan poinnya. Jika tidak paham, novel yang dibuat bisa jadi tidak menarik.
Gol A Gong menutup diskusi dengan pesan yang membekas. "Menjadi berguna jauh lebih penting daripada sekedar jadi orang penting. Lalu, membaca itu sehat, menulis itu hebat," ujarnya.
Sulaiman Juned menambahkan bahwa Komunitas Seni Kuflet setiap hari Sabtu selalu menggelar diskusi seni, sastra, seni rupa, teater, dan film. Setiap tiga bulan sekali, Kuflet mengundang para pakar untuk menjadi narasumber dan berbagi ilmu.
Kali ini Kuflet berkesempatan menghadirkan Gol A Gong yang sedang melakukan Safari Literasi ke Sumatera. "Ini kali berkesempatan hadir Gol A Gong yang sedang melakukan Safari Literasi ke Sumatera lantas kita gelar Jumpa Novelis dan Duta Baca Indonesia agar adik-adik di Kuflet dapat menyerap pengalaman yang maha dahsyat dari sahabat Gol A Gong. Beginilah rutinitas di Kuflet. Terima kasih Kang sudah berkenan berbagi," ujar sastrawan, teaterawan yang juga Dosen Seni Teater ISI Padangpanjang itu.