40 Mahasiswa SKI UIN Ar-Raniry Rawat 4 Makam Kuno di Banda Aceh, Belajar Teknik Bersihkan Batu Nisan

Penulis: Ragil  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 08:17:01 WIB
Mahasiswa SKI UIN Ar-Raniry membersihkan batu nisan di kompleks makam kuno di Banda Aceh.

BANDA ACEH — Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh menggandeng 40 mahasiswa Program Studi Sejarah Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam kegiatan bertajuk "Survei dan Pemeliharaan Cagar Budaya di Kota Banda Aceh". Peserta dibagi ke empat lokasi yang tersebar di sejumlah gampong, didampingi empat dosen pendamping sepanjang dua hari pelaksanaan.

Empat kompleks makam yang menjadi sasaran adalah Makam Syahbandar Mukhtabar Khan di Gampong Jawa, Makam Raja Reubah di Gampong Lamlagang, Makam Tuan Maqdum atau Sayed Muhammad Ibnu Sayed Al Kadir di Gampong Bitai, serta Makam Jeurat Manyang di Gampong Blang Cut. Keempat dosen yang mendampingi yakni Prof. Inayatillah, Marduati, M.A., Ph.D., Dra. Munawiah, M.Hum., Ph.D., dan Asmanidar, M.A.

Pengalaman Pertama Berhadapan Langsung dengan Objek Cagar Budaya

Bagi sebagian mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama mereka menyentuh langsung benda cagar budaya. Di lokasi, peserta mendapat penjelasan soal bentuk jirat, batu nisan, ukiran, hingga cara membersihkan benda bersejarah tanpa merusaknya.

Dosen SKI UIN Ar-Raniry, Marduati, menekankan perawatan makam berusia ratusan tahun menuntut teknik dan kehati-hatian khusus. Batu nisan tidak bisa diperlakukan seperti benda biasa karena ukiran dan bentuknya mudah rusak jika dibersihkan dengan alat yang tidak tepat.

"Prinsipnya, alat pembersih tidak boleh lebih keras daripada benda yang dibersihkan," ujarnya, Senin (5/10/2026).

Motif Bunga dan Tumbuhan di Nisan, Jejak Masa Kejayaan Aceh

Prof. Inayatillah menyebut makam-makam kuno tersebut sebagai salah satu bukti fisik yang masih bertahan dari masa kejayaan Aceh. Bentuk jirat dan batu nisan memiliki karakter berbeda sesuai masa pembuatannya.

Sejumlah ukiran pada jirat dan nisan juga menampilkan motif bunga serta tumbuhan yang dekat dengan kehidupan masyarakat pada masa itu. Detail-detail itu menjadi petunjuk penting bagi mahasiswa untuk membaca konteks sejarah di balik setiap objek.

Teknik Kering dan Basah Disesuaikan Kondisi Objek

Setelah mendapat pembekalan, mahasiswa bersama peserta lainnya membersihkan area makam dan mengangkat lumut yang menempel pada batu nisan. Pembersihan dilakukan menggunakan teknik kering dan basah sesuai kondisi masing-masing objek.

Koordinator Penyelamatan Warisan Budaya BPK Wilayah I Aceh, Sudirman, S.S., M.Hum., menjelaskan kegiatan tersebut merupakan konservasi ringan. Meski ringan, prosesnya tetap harus dilakukan hati-hati untuk mencegah kerusakan pada objek.

"Kegiatan ini kami batasi jumlah masyarakat yang terlibat, didukung peralatan yang memadai dan pendampingan tenaga ahli," kata Sudirman.

Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa untuk ikut menjaga peninggalan sejarah di daerah masing-masing.

"Ketika kembali ke kampung halaman, mereka bisa menerapkan ilmu ini untuk merawat peninggalan sejarah di daerahnya," ujarnya.

Makam Kuno Tak Bisa Dibuat Ulang Jika Rusak

Sudirman menegaskan makam kuno merupakan peninggalan yang tidak dapat dibuat kembali jika rusak atau hilang. Kerusakan pada objek juga berpotensi menghilangkan informasi sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Kegiatan tersebut turut melibatkan masyarakat Gampong Jawa. Geuchik Gampong Jawa Misrifun mengikutsertakan 20 warga untuk membantu proses pemeliharaan.

Misrifun berharap kompleks makam di Gampong Jawa mendapat perhatian lebih karena sejumlah batu nisan di lokasi tersebut sudah patah.

"Kami berharap makam ini bisa diperbaiki dan ditata rapi, serta dilengkapi fasilitas pendukung yang dibutuhkan," katanya.

Reporter: Ragil
Sumber: masakini.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top