PIDIE JAYA — Kegiatan yang dipusatkan di Polindes Meunasah Lhok tersebut melibatkan 18 dokter, terdiri atas 10 dokter spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (SpKKLP), tujuh dokter peserta PPDS KKLP, dan satu dokter internsip. Layanan berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dengan sasaran utama warga yang baru terdampak banjir.
Pelayanan yang diberikan mencakup pemeriksaan kesehatan umum, cek gula darah, kolesterol, dan asam urat, konsultasi, serta pengobatan gratis. Tim juga menyediakan layanan akupunktur dan membagikan hygiene kit berisi sabun, sampo, pasta gigi, sikat gigi, dan handuk.
Dari hasil pemeriksaan, keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah hipertensi, diare, diabetes, nyeri punggung bawah (low back pain), serta masalah terkait asam urat. Temuan itu menunjukkan dampak banjir tidak berhenti pada kerusakan fisik rumah dan lingkungan.
Ketua PDSKKI Aceh sekaligus pimpinan rombongan, Dr. dr. Ichsan, M.Sc., SpKKLP., Subsp.FOMC, menilai perhatian terhadap kesehatan warga kerap mengendur setelah air surut. Padahal, kata dia, penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes tetap harus terkontrol, sementara perubahan lingkungan dan sanitasi berpotensi memunculkan masalah kesehatan baru.
"Setelah banjir, perhatian sering kali terpusat pada kerusakan rumah dan lingkungan. Padahal kondisi kesehatan masyarakat juga perlu dipantau. Penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes tetap harus terkontrol, sementara perubahan lingkungan dan sanitasi dapat memunculkan masalah kesehatan lainnya," ungkap Ichsan.
Ia menegaskan kehadiran tim dokter tidak sekadar memberi pengobatan. Deteksi dini dan edukasi kesehatan menjadi bagian dari layanan yang diberikan di lokasi.
"Kami datang bukan hanya untuk mengobati, tapi juga melakukan deteksi dini dan bisa langsung memberikan edukasi kepada masyarakat," ujarnya.
Koordinator lapangan, Dr. Muhammad Aditia Jamin, MKM, SpKKLP, yang juga Wakil Direktur Umum RS Umum Pidie Jaya, menyebut layanan home visit disiapkan khusus untuk menjangkau warga yang sulit mengakses fasilitas kesehatan. Kelompok lansia dan warga dengan keterbatasan fisik menjadi sasaran utama kunjungan tersebut.
"Prinsipnya jangan sampai keterbatasan seseorang untuk datang ke tempat pelayanan membuat dia kehilangan kesempatan mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Karena itu, ketika ada informasi mengenai warga yang perlu diperiksa di rumah, tim kami mendatanginya," ujarnya.
Dalam kunjungan ke rumah, dokter tidak hanya memeriksa dan memberi obat. Mereka juga meninjau kondisi tempat tinggal, dukungan keluarga, serta faktor lingkungan yang bisa memengaruhi kesehatan pasien. Pendekatan itu sejalan dengan prinsip kedokteran keluarga dan layanan primer yang melihat kondisi pasien secara menyeluruh dalam konteks keluarga dan komunitas.
Ketua Program Studi PPDS KKLP FK USK, dr. Nurjannah, MPH., PhD., SpKKLP, menilai keterlibatan peserta didik dalam pelayanan masyarakat menjadi bagian penting dari proses pendidikan calon dokter spesialis. Menurutnya, pasien tidak bisa dinilai hanya dari penyakit yang dideritanya.
"Kami ingin peserta didik belajar bahwa pasien tidak dapat dilihat hanya dari penyakitnya. Ada keluarga, lingkungan, kondisi sosial dan akses terhadap pelayanan kesehatan yang ikut menentukan kesehatan seseorang," katanya.
Melalui kegiatan itu, peserta didik mendapat pengalaman berinteraksi langsung dengan warga. Bekal tersebut diharapkan membuat mereka tidak hanya punya kompetensi klinis, tetapi juga mampu berkomunikasi dan memahami kondisi komunitas.
Keuchik Meunasah Lhok, Rahmadi, menyambut baik kegiatan bakti sosial yang digelar PDSKKI Aceh bersama FK USK. Menurutnya, warga antusias memeriksakan kesehatan dan berkonsultasi langsung dengan dokter.
"Masyarakat menyambut kegiatan ini dengan sangat baik. Banyak warga datang untuk memeriksakan kesehatan dan berkonsultasi langsung dengan dokter. Yang sangat kami apresiasi, warga yang tidak sanggup datang juga dikunjungi ke rumah," katanya.
Bidan Desa Meunasah Lhok, Bdn. Rosdiana, S.Keb., turut membantu menghubungkan tim dokter dengan masyarakat serta mendampingi proses pelayanan dan kunjungan rumah. Menurut dia, kolaborasi antara dokter spesialis, tenaga kesehatan setempat, dan perangkat desa penting agar pelayanan menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan.