BANDA ACEH — Pertemuan antara perempuan Aceh dan mahasiswa Georgetown University berlangsung dengan jumlah peserta terbatas sesuai permintaan penyelenggara. Perwakilan lembaga perempuan dan komunitas di Aceh Utara hadir dalam forum tersebut.
Diskusi menyoroti kehidupan perempuan selama masa konflik, peran mereka sebagai agen perdamaian, hingga kontribusi dalam membangun kehidupan sosial setelah konflik dan bencana. Pengalaman itu dibagikan langsung oleh perempuan yang pernah melewati situasi tersebut.
Kontributor Dewan Balai Syura Ureung Inong Aceh Utara, Maida Safrina, menyebut pengalaman perempuan Aceh mendapat perhatian besar dari para mahasiswa. Mereka ingin memahami bagaimana perempuan mampu bertahan dan tetap berperan dalam kehidupan sosial setelah melewati berbagai situasi sulit.
"Pengalaman perempuan Aceh mendapat perhatian dari para mahasiswa yang ingin memahami bagaimana perempuan mampu bertahan dan tetap berperan dalam kehidupan sosial setelah melewati berbagai situasi sulit," kata Maida, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, pertemuan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi perempuan Aceh. Pengalaman mereka kini menjadi rujukan bagi generasi muda dari negara lain yang ingin belajar soal ketahanan, perdamaian, dan pemulihan pascakonflik.
Salah satu pertanyaan yang muncul dari mahasiswa adalah alasan perempuan Aceh tetap bersemangat menjalani kehidupan di usia mereka saat ini. Para peserta juga menyoroti bagaimana perempuan Aceh terlihat menikmati kehidupan dengan bahagia meski pernah melewati masa sulit.
Pertanyaan lain berkaitan dengan makna perdamaian bagi perempuan Aceh yang pernah mengalami langsung dampak konflik. Jawaban atas pertanyaan itu menjadi bagian dari pertukaran pengalaman antarpeserta.
Forum tersebut juga menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa pengalaman perempuan tidak hanya penting dalam proses penyelesaian konflik. Peran mereka turut menentukan dalam menjaga perdamaian dan membangun kembali kehidupan masyarakat setelah konflik maupun bencana.
Pertemuan melibatkan perwakilan Gerakan Perempuan Aceh (Gerper), Balai Syura Ureung Inong Aceh, mahasiswa Georgetown University dari sejumlah negara Asia, serta ICAIOS. Peserta saling berbagi pengalaman mengenai kehidupan perempuan selama masa konflik.
Kegiatan dilakukan dengan jumlah peserta terbatas sesuai permintaan penyelenggara. Penyelenggara menghadirkan perwakilan lembaga perempuan dan komunitas di Aceh Utara sebagai narasumber utama.
Bagi perempuan Aceh, forum ini menjadi penanda bahwa pengalaman panjang menghadapi konflik dan bencana kini diperhitungkan sebagai sumber pembelajaran lintas negara. Mahasiswa dari wilayah yang masih menghadapi persoalan konflik mendapat gambaran langsung tentang ketahanan dan pemulihan pascakonflik dari mereka yang menjalaninya.