Sprei Baru Dicuci Bau Apek Asam? Ini Kesalahan Menjemurnya

Penulis: Ragil  •  Rabu, 30 September 2026 | 15:47:31 WIB
Sprei yang baru dicuci dapat mengeluarkan bau apek menyerupai urin akibat bakteri yang bertahan setelah proses pencucian.

ACEH — Sprei yang baru selesai dicuci sering mengeluarkan bau apek menyerupai urin, dan penyebabnya bukan sabun yang kurang banyak. Ahli pencegahan infeksi Dr. Shanina C. Knighton menyebut kain poliester paling rentan menyimpan bau permanen karena bakteri yang bertahan setelah siklus pencucian.

Bau asam yang muncul begitu sprei dipasang di ranjang bukan tanda deterjen Anda kurang bekerja. Menurut Dr. Shanina C. Knighton, PhD, RN, CIC, bakteri yang lolos dari proses pencucian berkembang biak saat kain masih lembap. Kondisi lembap, hangat, gelap, plus sisa minyak kulit dan deterjen di serat kain menjadi media ideal bagi bakteri untuk tumbuh.

Mengapa Sprei Lembap Berubah Jadi Sarang Bakteri

Knighton menjelaskan proses pencucian memang menghilangkan sebagian besar kotoran, tapi tidak mensterilkan kain. Sejumlah kecil bakteri selalu bertahan di setiap siklus cuci. Ketika sprei dibiarkan menumpuk di drum mesin terlalu lama, dijemur saat udara lembap, atau dilipat sebelum benar-benar kering, bakteri tersebut mendapat semua yang dibutuhkan untuk berkembang.

Sebagai spesialis pencegahan infeksi dan peneliti di Case Western Reserve University, Knighton menyamakan kain lembap dengan tangan basah. Keduanya menjadi media yang jauh lebih mudah menempelkan dan memindahkan kuman dibanding permukaan kering.

Bau yang Menyerupai Urin Punya Penjelasan Ilmiah

Saat bakteri menguraikan keringat dan sisa kulit pada sprei, senyawa yang dilepaskan masuk ke keluarga aroma yang sama dengan urin dan keringat basi. Itu sebabnya hidung Anda tidak salah menangkap aroma menyengat tersebut.

Sumber bau ini adalah Moraxella osloensis, bakteri yang hidup tanpa bahaya di kulit manusia. Bakteri inilah yang juga bertanggung jawab atas bau khas handuk yang terlalu lama dipakai. Knighton menegaskan bakteri ini sulit dibasmi karena tahan terhadap pengeringan, sinar ultraviolet, bahkan sebagian aditif antimikroba pada deterjen.

Poliester Paling Rentan Alami Bau Permanen

Jenis kain menentukan seberapa parah bau menempel. Knighton menyebut poliester dan campuran poliester sebagai biang keladi terburuk. Penelitian menunjukkan senyawa bau dan bakteri penyebab bau menempel di serat poliester cuci demi cuci, fenomena yang oleh peneliti disebut permastink atau bau permanen.

Kapas lebih pemaaf karena melepaskan minyak dan bau lebih mudah saat dicuci. Meski begitu, kain katun tebal seperti percale atau flanel butuh waktu lebih lama untuk kering sepenuhnya.

Lipat Sprei Setengah Kering Justru Memperparah Masalah

Bau biasanya tidak langsung tercium setelah sprei kering. Masalah muncul ketika sprei yang belum benar-benar kering dilipat dan disimpan. Lapisan kain saling menahan kelembapan sementara aliran udara praktis nol, sehingga bakteri terus berkembang biak selama sprei disimpan.

Bau yang Anda temukan belakangan adalah limbah metabolisme bakteri yang sepanjang waktu itu memang sedang makan dan memperbanyak diri di dalam serat kain.

Cara Mengembalikan Sprei yang Sudah Bau

Mencuci ulang begitu saja tidak cukup. Knighton menyarankan membersihkan mesin cuci lebih dulu sebelum mencuci sprei, karena kalau bakteri bersarang di dalam mesin, siklus cuci berikutnya hanya mengulang masalah. Mesin tanpa fitur self-cleaning sebaiknya dijalankan pada siklus kosong dengan pembersih khusus atau cuka. Karet pintu dan laci deterjen perlu dilap, lalu dibiarkan terbuka di antara pemakaian. Mesin front loading dikenal paling sering menyimpan bakteri penyebab bau di area gasket.

  • Cuci sprei pada suhu air terhangat yang masih aman untuk kain, idealnya 130 derajat Fahrenheit atau sekitar 54 derajat Celsius untuk katun, karena siklus dingin meninggalkan lebih banyak bakteri. Cek label perawatan lebih dulu.
  • Jika suhu tinggi bukan pilihan, bilas dengan satu cangkir cuka putih atau baking soda untuk memecah residu yang menjadi makanan bakteri.
  • Hindari pelembut kain pada pencucian pemulihan ini. Pelembut melapisi serat dan justru memerangkap residu serta bau.
  • Pindahkan sprei ke pengering atau jemuran segera setelah siklus selesai. Jangan lipat sebelum seluruh bagian benar-benar kering, termasuk lipatan tebal dan karet sudut fitted sheet yang paling lama menyimpan air.
  • Tunggu sampai sprei dingin sebelum dipastikan kering. Kain yang terasa kering saat masih hangat bisa kembali lembap setelah suhunya turun.

Kebiasaan yang Mencegah Bau Datang Lagi

Ventilasi lemari linen sering jadi ruang paling minim sirkulasi udara di rumah, kadang berbagi dinding dengan kamar mandi. Knighton menyarankan memberi sedikit celah udara antar tumpukan sprei dan menghindari menyimpannya dalam wadah plastik yang memerangkap kelembapan.

Untuk pencegahan jangka panjang, bahan kain tetap faktor utama. Menghindari kain sintetis dan memilih sprei katun membantu mengurangi risiko bau menempel, dengan catatan proses pengeringan tetap harus tuntas setiap kali.

Reporter: Ragil
Sumber: tomsguide.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top