ACEH — Setelah serangkaian insiden kekerasan dan aksi kriminalitas jalanan yang menyasar wisatawan, Pemerintah Roma menetapkan kawasan Colosseum sebagai zona merah. Status ini memberi kewenangan ekstra kepada aparat kepolisian untuk menjaga ketertiban, termasuk memerintahkan individu yang dianggap membuat keributan untuk segera meninggalkan area tersebut.
Menurut keterangan resmi yang dikutip dari CNN, keputusan ini dipicu oleh meningkatnya kejahatan dan peredaran narkoba. Insiden pemicu utamanya adalah aksi brutal sekitar 50 anak muda yang menyerang polisi menggunakan kembang api pada Juli lalu, yang melukai sejumlah petugas.
Kendati pengawasan diperketat dengan kehadiran personel militer selama 24 jam, aksi pencopetan di sekitar Colosseum ternyata masih terjadi. Seorang wisatawan asal Amerika Serikat, Janelle Triton, mengaku menyaksikan langsung seorang perempuan menjadi korban pencopetan tepat di kawasan zona merah tersebut.
“Keamanan di sini sangat ketat, tetapi saya baru saja melihat seorang perempuan menjadi korban pencopetan,” ujar Triton. Ia menambahkan bahwa pelaku telah kabur sebelum aparat sempat bergerak ke lokasi kejadian.
Pihak hotel tempat Triton menginap bahkan telah memberikan peringatan keras kepada para tamunya. “Kami diberi tahu oleh pihak hotel untuk tidak datang ke sini (Colosseum) pada malam hari, jadi kami menghindari kawasan ini,” ungkapnya. Hal ini menandakan bahwa meskipun polisi hadir lebih banyak, area sekitar monumen bersejarah itu masih dianggap rawan saat kondisi ramai atau gelap.
Selain Colosseum, pihak berwenang juga menerapkan pengamanan ekstra di titik-titik yang kerap dipadati pelancong, seperti Stasiun Termini, Basilika Santo Petrus, dan Basilika Santa Maria Maggiore. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya aksi kejahatan serupa di lokasi-lokasi ikonik lainnya.
Menariknya, masalah keamanan ini muncul di tengah besarnya investasi Roma dalam proyek infrastruktur. Pembangunan stasiun metro Colosseum yang dibuka pada Desember 2025 menjadi bagian dari proyek pengembangan jaringan kereta bawah tanah senilai USD 8,3 miliar (Rp 146 triliun).
Pejabat keamanan Roma, Lamberto Giannini, menyebut stasiun metro baru ini justru menjadi salah satu faktor pemicu meningkatnya insiden. Stasiun bawah tanah tersebut dinilai menjadi akses baru bagi kelompok anak muda terpinggirkan untuk masuk ke pusat bersejarah Roma dan menjadikan wisatawan sebagai sasaran kejahatan.
Pemerintah Roma menegaskan akan mengevaluasi dampak kebijakan zona merah ini melalui laporan resmi yang dijadwalkan terbit bulan September 2026 ini. Selama masa transisi tersebut, wisatawan diimbau untuk tetap waspada, tidak memakai perhiasan mencolok, dan menyimpan barang berharga di tempat aman, terutama saat berkunjung ke area publik yang padat.