BANDA ACEH — Jumlah kebutuhan guru di Banda Aceh masih menjadi pekerjaan rumah terbesar dalam peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) tahun ini. Dialog yang digelar Wali Kota Illiza Sa'aduddin Djamal dengan kepala sekolah se-Banda Aceh membuka data bahwa kota itu masih kekurangan sekitar 70 hingga 80 guru.
Pertemuan yang mengusung tema "Kuatkan Kolaborasi untuk Pendidikan Berkualitas" itu dihadiri ratusan kepala sekolah negeri dan swasta di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Banda Aceh.
Illiza menyebut dialog ini menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar seremonial tahunan. "Apa yang masih bisa kita perbaiki bersama," ujarnya di hadapan para kepala sekolah.
Persoalan kekurangan tenaga pendidik yang disuarakan kepala sekolah bukan hanya soal ketersediaan orang, tetapi juga alokasi pembiayaan gaji. Terkait usulan pembukaan formasi PPPK bagi guru sekolah swasta, Illiza mengaku masih menunggu regulasi terbaru dari pemerintah pusat.
Sebagai langkah antara, Pemko Banda Aceh mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi setempat. Keterlibatan relawan guru dan pemanfaatan pembelajaran daring juga disiapkan untuk menutup celah kekosongan pengajar.
Illiza berencana melakukan sidak ke sejumlah sekolah untuk mengecek langsung kondisi fasilitas, terutama toilet. "Saya akan keliling ke sekolah-sekolah untuk mengecek langsung, terutama toilet. Setiap sekolah juga harus menjalankan program 3R: reduce, reuse, recycle," tegasnya.
Dari sisi pengelolaan keuangan, ia meminta sekolah membuka transparansi agar kepercayaan orang tua terjaga. Terkait sumbangan kegiatan yang telah disepakati bersama komite, wali kota menegaskan nominalnya tak boleh dipatok wajib karena bersifat sukarela.
Pemerintah kota kembali menjalin kerja sama dengan Kota Higashimatsushima, Jepang, untuk penguatan mitigasi bencana di lingkungan sekolah. "Ke depan, kita akan menggelar lagi tsunami drill di lingkungan sekolah dengan melibatkan komunitas dalam upaya mitigasi bencana," kata Illiza.
Dialog juga menyoroti sejumlah persoalan sosial yang dinilai berpotensi menyasar anak usia sekolah. Illiza menyinggung persoalan perundungan hingga perilaku menyimpang LGBT yang disebutnya masih perlu dihadapi dan dicari solusinya bersama.
Dalam kesempatan itu, wali kota meminta kepala sekolah turut mengawasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengawasan diperlukan agar makanan yang diterima siswa aman, bersih, higienis, dan layak konsumsi.
"Kami juga berkomitmen untuk terus melanjutkan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah dan Dokter Saweu Sikula di Banda Aceh," demikian Illiza.