Pemerintah Aceh menyatakan kelas menengah merupakan motor penggerak ekonomi daerah, sehingga menjaga daya beli kelompok ini menjadi prioritas di tengah tekanan inflasi. Inflasi Aceh pada Juli 2026 tercatat 5,38 persen secara tahunan (yoy), turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 5,84 persen.
BANDA ACEH — Asisten II Setda Aceh T Robby Irza menyebut kelas menengah sebagai motor konsumsi yang menggerakkan sektor perdagangan, jasa, UMKM, hingga transportasi di provinsi ujung barat Indonesia. Menurutnya, aktivitas ekonomi produktif akan ikut bergerak selama daya beli kelompok ini terjaga.
"Ketika daya beli kelompok ini terjaga, aktivitas perdagangan, jasa, UMKM, transportasi, dan sektor produktif lainnya juga akan bergerak," kata T Robby Irza di Banda Aceh, Sabtu.
Pemerintah Aceh tengah mencermati kondisi sosial ekonomi masyarakat, terutama kelas menengah, di tengah pemulihan pascabencana hidrometeorologi. Bencana tersebut berdampak pada produksi dan distribusi pangan di sejumlah wilayah.
Tekanan juga datang dari meningkatnya permintaan daging dan telur ayam ras. Kebutuhan ini tidak hanya berasal dari masyarakat, tetapi juga untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjalan di Aceh.
Data menunjukkan inflasi Aceh pada Juli 2026 mencapai 5,38 persen secara tahunan. Angka ini mengalami penurunan dari posisi Juni 2026 yang sebesar 5,84 persen.
Meski menurun, kondisi ini tetap diantisipasi agar peningkatan permintaan tidak memicu lonjakan harga yang memberatkan daya beli warga.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat pengendalian inflasi berbasis data. Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi komoditas penyumbang inflasi dan wilayah kabupaten/kota yang mengalami tekanan harga.
Sejumlah intervensi telah disiapkan, antara lain:
Kolaborasi juga dilakukan dengan Bulog, Kadin Aceh, Bank Indonesia Perwakilan Aceh, serta pemerintah kabupaten/kota.
T Robby Irza menambahkan, seluruh pemangku kepentingan berkomitmen menjaga pasokan dan kelancaran distribusi pangan. Upaya ini ditujukan agar harga kebutuhan pokok tetap terjangkau bagi masyarakat Aceh.
Menjaga daya beli kelas menengah dinilai sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah. Sektor perdagangan dan jasa yang digerakkan kelompok ini menjadi penopang utama aktivitas ekonomi di Aceh.