ACEH — Kartika Putri, ibu tiga anak, baru saja berbagi pengalaman menyusuinya untuk anak ketiga, Muhammad Ali, yang lahir pada 12 Desember 2025. Melalui akun Instagramnya, ia menjelaskan bahwa perubahan tekstur ASI dari encer menjadi kental dalam satu sesi memompa adalah hal yang normal dan penting. Istri Habib Usman Bin Yahya ini menekankan bahwa setiap tetes ASI memiliki fungsinya masing-masing untuk Si Kecil.
Pada 15 menit pertama sesi menyusui atau memompa, ASI yang keluar biasanya terlihat lebih cair dan agak bening. Bagian ini disebut foremilk. Meski tampak sederhana, foremilk kaya akan vitamin, protein, mineral, dan laktosa.
"Ada laktosa sebagai sumber energi dan mendukung perkembangan otak. Jadi cair nggak papa banget, malah penting buat memenuhi kebutuhan air baby," ujar Kartika dalam unggahannya.
Jadi, foremilk ini berperan sebagai "minuman" pertama yang menghidrasi dan memberikan energi cepat bagi bayi.
Setelah foremilk, barulah tubuh melepaskan hindmilk. ASI yang keluar pada 15 menit berikutnya ini memiliki warna lebih putih pekat dan tekstur yang jauh lebih kental. Perbedaan ini bisa terlihat jelas, bahkan dari foto hasil pumping yang dibagikan Kartika.
"Nah setelah 15 menit berikutnya baru kental, namanya hindmilk. Warnanya lebih putih dan kental," jelas Kartika.
Hindmilk mengandung lemak dan kalori yang lebih tinggi. Kandungan inilah yang membuat bayi merasa kenyang lebih lama, sekaligus mendukung penambahan berat badan, perkembangan otak, dan sistem sarafnya.
Lalu, bagaimana cara memastikan bayi mendapatkan kedua jenis ASI ini? Kuncinya ada pada durasi menyusui di satu sisi payudara. Kartika menyarankan para ibu untuk tidak terburu-buru memindahkan bayi ke payudara satunya.
Biarkan bayi menyusu hingga payudara terasa kosong atau lebih lembek. Dengan begitu, ia akan mendapatkan foremilk di awal dan hindmilk di akhir sesi secara berurutan.
"Jadi kalau menyusui beresin atau kosongin 1 payudara baru pindah ke satunya. Biar baby kita dapet kedua-duanya," tuturnya.
Kebiasaan memindahkan bayi terlalu cepat justru bisa membuat bayi hanya mendapat foremilk yang tinggi laktosa. Hal ini kadang memicu bayi cepat lapar atau rewel karena tidak mendapat asupan lemak yang mengenyangkan.
Kartika pun mengingatkan para ibu untuk tidak terlalu cemas dengan tampilan ASI yang berbeda-beda. Justru, fokuslah pada pelekatan yang benar dan frekuensi menyusui yang cukup.
"Jadi nggak usah khawatir ya mom. Semangat menyusui," pesan Kartika di akhir unggahannya.
Selain soal ASI, belakangan ini Kartika juga sempat mengungkapkan keinginannya untuk steril usai melahirkan anak ketiga. Namun, sang suami menolak karena alasan agama. Sebagai gantinya, mereka memilih program KB dengan pengaturan jarak kelahiran sesuai anjuran dokter, sambil tetap mempertimbangkan kondisi kesehatan Kartika usai operasi caesar.