BPBA Sebut Lahan Aceh Lebih Basah Dibanding Riau dan Kaltim, Karhutla Masih Terjadi di 3 Kabupaten

Penulis: Fajar  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:15:31 WIB
Berikut adalah 3–5 caption foto berita yang sesuai dengan permintaan:

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) memastikan Provinsi Aceh tidak masuk dalam kategori daerah berisiko tinggi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meski tengah dilanda fenomena El Nino. Kepala Pelaksana BPBA Bahron Bakti menyebut kondisi lahan di Aceh cenderung lebih basah dibandingkan sejumlah provinsi lain seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Tengah. Meski demikian, BPBA mencatat kebakaran lahan tetap terjadi di beberapa kabupaten dalam skala kecil dan masih bisa ditangani.

BANDA ACEH — Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyatakan dinamika atmosfer yang terjadi saat ini membuat Provinsi Aceh terhindar dari status daerah rawan kebakaran hutan dan lahan. Kondisi ini berbeda dengan sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan yang tengah dilanda karhutla akibat musim kemarau berkepanjangan.

"Alhamdulillah, karena dinamika atmosfer yang sedemikian rupa, Aceh tidak masuk dalam provinsi yang berisiko tinggi kebakaran hutan dan lahan," kata Kepala Pelaksana BPBA Bahron Bakti di Banda Aceh, Rabu.

Lahan Aceh Lebih Basah Dibanding Wilayah Lain

Bahron menjelaskan, meskipun Aceh mengalami hari tanpa hujan ekstrem akibat El Nino, tingkat kebasahan lahan di provinsi paling barat Indonesia itu masih lebih baik. Hal ini yang menjadi pembeda utama dengan provinsi lain seperti Riau, Jambi, Palembang, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Kondisi geografis dan karakteristik tanah di Aceh dinilai tidak terlalu kering sehingga risiko penyebaran api tidak meluas. Lahan mineral yang ada juga mempermudah proses pemadaman dibandingkan lahan gambut yang sulit ditangani.

Karhutla Skala Kecil Masih Ditemukan di Tiga Kabupaten

Kendati tidak masuk kategori berisiko tinggi, BPBA mengakui kebakaran lahan tetap terjadi dalam beberapa hari terakhir. Titik api terpantau di Kabupaten Aceh Besar, Nagan Raya, dan Aceh Barat dengan luasan yang relatif kecil.

"Kita tidak punya Satgas, jadi ditangani secara parsial oleh kabupaten/kota terkait, dan alhamdulillah bisa tertangani," ujar Bahron.

Verifikasi Lapangan Dilakukan untuk Pastikan Titik Panas

BPBA mencatat terdapat cukup banyak hotspot atau titik panas yang terdeteksi di wilayah Aceh. Namun setelah dilakukan ground truthing atau verifikasi faktual ke lapangan, kebakaran yang terjadi hanya melanda lahan mineral dan langsung berhasil dipadamkan.

Berbeda dengan lahan gambut yang api bisa menyebar ke bawah permukaan tanah, kebakaran di lahan mineral lebih mudah dikendalikan. Hal ini menjadi alasan utama mengapa karhutla di Aceh tidak meluas seperti di provinsi lain.

Forkopimda Aceh Jadikan Karhutla Atensi Bersama

Bahron menambahkan, persoalan karhutla telah menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh telah menggelar rapat khusus untuk membahas langkah antisipasi dan penanganan kebakaran lahan.

"Terkait risiko karhutla, Forkopimda Aceh juga telah melaksanakan rapat dan masalah ini menjadi atensi bersama," katanya.

Langkah koordinasi antarinstansi ini dilakukan untuk memastikan setiap laporan kebakaran lahan dapat ditindaklanjuti dengan cepat oleh kabupaten/kota masing-masing.

Reporter: Fajar
Sumber: aceh.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top