ACEH — Brabus selama ini identik dengan Mercedes-Benz yang dimodifikasi agresif—body kit mencolok, spoiler besar, dan performa gila. Tapi Bodo, karya pertama yang benar-benar dibangun dari nol oleh Brabus, menceritakan babak yang berbeda. Kami berkesempatan menguji mobil ini di area Pebble Beach, dan yang langsung terasa adalah betapa berbedanya pendekatan desainnya dibanding produk Brabus yang selama ini kita kenal.
Bodo bukan sekadar Aston Martin Vanquish yang dipasangi body kit. Brabus membeli mobil utuh dari pabrik di Gaydon, lalu membongkarnya habis dan mengganti seluruh panel bodi dengan serat karbon yang dibentuk manual. Hasilnya adalah coupe grand tourer dengan proporsi sangat panjang, kabin yang terasa privat, dan bagian belakang drop-tail yang dramatis.
Yang menarik, desainnya justru mengingatkan pada mobil-mobil custom Eropa era sebelum Perang Dunia II—bukan mobil tuner modern yang penuh celah udara dan sayap. CEO Brabus, Constantin Buschmann, mengakui ini memang arah baru yang ingin mereka tuju. "Jika melihat versi kami untuk Mercedes-Maybach S-class, Brabus 850, banyak pelanggan menginginkan desain yang sangat elegan," katanya. "Ini jelas sinyal ke mana arah kami sekarang."
Brabus mempertimbangkan beberapa platform sebelum memilih Vanquish. Alasan utamanya bukan cuma mesin V-12 twin-turbo 5.2 liter yang bertenaga, tapi juga kombinasi jarak sumbu roda panjang dan kemiringan pilar A yang pas untuk proporsi bodi baru. Ada alasan praktis lain: karena Aston Martin bekerja sama dengan Mercedes, sebagian sistem elektroniknya sudah familiar bagi teknisi Brabus.
Mesinnya sendiri tetap dirombak. Brabus memasang turbo dan intercooler baru, plus intake Ram-Air ganda, sehingga tenaganya naik ke angka genap 1.000 HP dengan torsi 885 pound-feet. Tenaga disalurkan ke roda belakang melalui transmisi otomatis 8-percepatan dan diferensial selip terbatas. Ban belakangnya berukuran 335/22—sangat lebar, tapi tetap kewalahan menyalurkan tenaga ke aspal.
Kami hanya bisa menjajal Bodo di area Pebble Beach yang penuh mobil klasik mahal, jadi tidak ada kesempatan mendekati batas kemampuannya. Tapi dari beberapa celah jalan yang sempat terbuka, karakternya jelas: sangat stabil dan tenang, seperti menempel di rel. Klaim akselerasi 0-60 mph di bawah 3 detik dan top speed hampir 225 mph terdengar masuk akal mengingat tenaganya, tapi yang lebih mengesankan justru betapa jinaknya mobil ini saat dipakai merayap pelan.
Buschmann sendiri menyebut Bodo sebagai "hyper GT", meski ia mengakui istilah itu tidak pernah dipakai di materi pemasaran resmi. "Hyper merujuk pada penampilan keseluruhan, 1.000 HP, kecepatan. Tapi Gran Turismo berarti mobil sport yang tetap nyaman, yang bisa dipakai cruising," jelasnya. "Secara pribadi, saya paling menikmati mobil ini di rentang kecepatan menengah. Tapi tentu saja, jika dibawa ke Autobahn, mobil ini bisa mengejar sports car mana pun."
Brabus berencana memproduksi 77 unit coupe dan 77 unit versi lain yang baru diumumkan. Dengan harga sekitar USD 1 juta—atau lebih dari Rp 16 miliar—Bodo jelas bukan mobil untuk semua orang. Tapi justru di sinilah letak kelemahan terbesarnya: membeli Bodo berarti mengorbankan desain asli Aston Martin Vanquish yang sudah indah, demi tampilan yang lebih "tenang" namun tetap mencolok di jalan.
Untuk konteks, Vanquish standar dibanderol sekitar USD 450.000. Anda membayar lebih dari dua kali lipat untuk bodi karbon baru dan tambahan tenaga. Apakah itu worth it? Tergantung seberapa besar Anda menghargai eksklusivitas dan seberapa kuat keinginan untuk tampil beda dari pemilik Vanquish lain. Satu hal yang pasti: Bodo membuktikan Brabus bisa berhenti menjadi tuner yang norak dan menjadi coachbuilder sungguhan.