TAKENGON — Bangkai anak lembu yang sempat dipindahkan warga ke parit justru kembali dimangsa harimau sumatera di Desa Serule, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah. Upaya menghilangkan jejak bau dari lokasi serangan sebelumnya tidak berhasil mengusir satwa liar tersebut.
Kepala Koordinator Relawan Kecamatan Bintang, Wedy Sastra Yoga, menyebutkan lokasi serangan berada di kawasan hutan produksi yang dekat dengan aktivitas masyarakat. Jarak titik kejadian dengan kamp pekerja penyadap getah hanya sekitar 100 meter, sehingga warga mulai khawatir konflik ini tidak lagi hanya menelan korban ternak.
"Awalnya lembu itu berada di kebun, kemudian dipindahkan masyarakat ke parit agar baunya hilang. Tetapi harimau tetap datang dan memakannya lagi. Bangkainya sekarang masih ada di lokasi," kata Wedy kepada Nukilan, Jumat (7/8/2026).
Wedy menilai pergeseran pola serangan ini mengindikasikan satwa tersebut semakin berani mendekati area aktivitas manusia. Menurut cerita warga yang lama bermukim di Serule, harimau liar yang selama ini hidup di kawasan itu jarang memasuki permukiman.
Namun, belakangan sejumlah warga mengaku melihat harimau yang muncul menggunakan kalung pelacak (tracker). Dugaan sementara, satwa tersebut merupakan bagian dari harimau hasil pelepasliaran yang sebelumnya dilakukan di wilayah Gayo Lues. Wedy menegaskan hal ini masih perlu dipastikan oleh pihak berwenang.
Masyarakat mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) segera mengambil langkah nyata sebelum konflik berujung pada korban jiwa. "Jangan sampai nanti bukan lagi ternak yang menjadi korban. Kalau sudah ada manusia yang diserang, ceritanya akan berbeda," ujarnya.
Selain meminta mitigasi, peternak juga mempertanyakan kepastian kompensasi atas ternak yang hilang akibat serangan harimau. "Harimau memang tidak bisa disalahkan karena itu sifat alaminya. Tapi sudah ada instansi yang menangani satwa liar. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan tanpa ada solusi maupun kepastian soal ganti rugi ternak," tambah Wedy.
Warga tidak menyalahkan perilaku alami harimau sebagai satwa liar, tetapi menilai pemerintah melalui BKSDA memiliki tanggung jawab untuk memantau keberadaan satwa dilindungi dan mencegah konflik berkepanjangan dengan masyarakat.
Kepala Resort BKSDA Takengon, Saidi, membenarkan telah menerima laporan terkait kejadian terbaru ini. Berdasarkan informasi awal, lokasi serangan berada di kawasan hutan produksi.
"Kemarin sudah kita koordinasikan. Lokasinya berada di kawasan hutan produksi. Kami juga sudah menyampaikan agar menggunakan mercon untuk menghalau satwa tersebut," kata Saidi saat dikonfirmasi, Jumat (7/8/2026).
Saidi mengakui hingga kini belum ada tim yang kembali turun ke lapangan setelah laporan terbaru diterima. Pihaknya berencana melakukan pengecekan ulang ke lokasi untuk melihat kondisi terkini. "Nanti akan kita cek lagi. Rencananya besok kami turun ke lokasi untuk melihat kondisi di lapangan," ujarnya.