ACEH — Produksi minyak bumi PHE pada paruh pertama tahun ini tercatat 459 ribu barel per hari (bph), sementara produksi gas mencapai 2.756 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Angka ini lebih rendah dari realisasi tahun lalu yang mencapai 557 ribu bph untuk minyak dan 2,76 miliar standar kaki kubik per hari (bscfd) untuk gas.
Untuk menahan laju penurunan produksi, PHE menggencarkan aktivitas pengeboran. Sepanjang semester I 2026, perusahaan telah menyelesaikan pengeboran 278 sumur eksploitasi, 601 kegiatan workover, dan 13.870 kegiatan well service. Hermansyah menyebut langkah ini sebagai upaya menjaga keandalan aset.
Di sisi eksplorasi, PHE mengebor 9 sumur eksplorasi serta melakukan survei seismik 2D sepanjang 189 kilometer dan survei seismik 3D seluas 2.848 kilometer persegi. Hasilnya, perusahaan menemukan sumber daya kontingen (2C) sebesar 108 juta barel setara minyak (mmboe) dan menambah cadangan terbukti (P1) sebesar 24,9 mmboe.
“Kami terus menjaga keseimbangan antara optimalisasi produksi dari aset eksisting dan pengembangan potensi sumber daya baru agar dapat memberikan kontribusi yang optimal terhadap ketahanan energi nasional,” ujar Hermansyah dalam siaran pers, Selasa (28/7).
Ia menambahkan, berbagai capaian di pertengahan tahun menjadi fondasi untuk menyelesaikan program kerja 2026. PHE berkomitmen mempercepat eksekusi pengeboran, menerapkan teknologi baru, dan meningkatkan efisiensi operasi. Perusahaan juga memastikan pengelolaan bisnis sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta menerapkan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berstandar ISO 37001:2016.
Sebagai gambaran, sepanjang 2025 PHE memproduksi 1,03 juta mboepd. Saat itu, perusahaan mengebor 886 sumur eksploitasi, melakukan 1.288 workover, dan 37.259 kegiatan well service. Penambahan cadangan terbukti (P1) tahun lalu mencapai 313,7 mmboe, jauh lebih tinggi dibandingkan capaian semester I 2026 yang baru 24,9 mmboe. Penurunan ini menunjukkan tantangan berat yang dihadapi PHE untuk mempertahankan laju produksi di sisa tahun.