BANDA ACEH — Kemenag Aceh meminta warga memanfaatkan peristiwa astronomi langka ini untuk memastikan ketepatan arah sholat. Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Drs H Azhari MSi, mengatakan pengukuran bisa dilakukan secara mandiri dengan benda tegak lurus.
"Rashdul Kiblat merupakan metode yang sangat tepat dan sederhana untuk mengkalibrasi kembali arah kiblat. Pengukurannya pun mudah, cukup menggunakan sebuah tiang atau benda yang berdiri tegak lurus dan terkena sinar Matahari," ujar Azhari, Rabu (15/7/2026).
Fenomena ini berlangsung dua hari berturut-turut. Waktu pengamatan di Aceh dimulai pukul 16.25 WIB hingga 16.29 WIB, dengan puncak pada pukul 16.27 WIB. Pada rentang tersebut, tingkat kesalahan arah kiblat berada di bawah 0,1 derajat.
Azhari menjelaskan tiga syarat utama agar hasil kalibrasi akurat. Pertama, benda patokan harus benar-benar tegak lurus, bisa menggunakan bantuan bandul. Kedua, permukaan tempat berdirinya benda harus datar dan rata. Ketiga, waktu pengukuran harus disesuaikan dengan waktu resmi BMKG.
Kemenag mencanangkan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026. Masyarakat bisa mendaftarkan lokasi pengukuran melalui portal https://indonesiaberkiblat.kemenag.dev. Setelah membuat akun dan mengisi data lokasi, peserta dapat mengikuti pengukuran serentak sesuai waktu fenomena.
"Mari kita sukseskan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026. Selain menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk menyempurnakan ibadah umat, masyarakat yang mendaftarkan diri dalam kegiatan ini juga akan memperoleh sertifikat resmi pelaksanaan Rashdul Kiblat dari Kementerian Agama," kata Azhari didampingi Pelaksana Tugas Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Aceh, Dr Alfirdaus Putra SHI MH.
Menurut Azhari, gerakan ini tidak hanya bertujuan memastikan ketepatan arah kiblat. Program ini juga meningkatkan literasi masyarakat mengenai ilmu falak sebagai instrumen penting dalam pelayanan keagamaan. Portal yang disediakan juga memuat panduan teknis pelaksanaan, sehingga warga bisa mengukur secara mandiri atau bersama petugas Kemenag di daerah.
Selain metode Rashdul Kiblat, dalam ilmu falak terdapat beberapa cara lain untuk menentukan arah kiblat, seperti menggunakan kompas dan theodolit. Namun, memanfaatkan bayangan matahari saat fenomena ini dinilai paling mudah dan bisa dilakukan siapa saja tanpa biaya.