LANGSA — Direktur Eksekutif KADIN Aceh, Teuku Jailani, menilai pengendalian inflasi selama ini terlalu bergantung pada rapat koordinasi yang hasilnya tidak selalu terasa di lapangan. Menurutnya, kolaborasi antarlembaga harus dibangun di atas pertukaran informasi yang berjalan aktif, bukan sekadar pertemuan tahunan.
"Kolaborasi hanya akan efektif jika dibangun di atas koordinasi yang kuat dan pertukaran informasi yang berjalan baik, mulai dari perencanaan hingga langkah antisipasi di lapangan," ujarnya mewakili Ketua Umum KADIN Aceh.
Teuku Jailani menyoroti komoditas telur ayam dan daging ayam yang masih bergantung pada pasokan dari luar provinsi. Kondisi ini membuat harga rentan terhadap lonjakan biaya distribusi dan logistik, terutama karena posisi geografis Aceh yang jauh dari sentra produksi nasional.
"Biaya angkut menjadi lebih tinggi dan berpengaruh langsung terhadap harga di tingkat konsumen," kata dia.
KADIN Aceh mendorong percepatan pembangunan industri peternakan ayam petelur dan ayam pedaging di dalam daerah. Langkah ini dinilai mampu memperpendek rantai pasok, meningkatkan ketahanan pangan, sekaligus menjaga stabilitas harga.
Teuku Jailani meyakini penguatan sektor produksi lokal juga membuka peluang investasi dan lapangan kerja baru. Ia menegaskan KADIN Aceh siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat investasi, distribusi, dan perdagangan di sektor produktif.
Selain produksi, KADIN Aceh juga menyoroti kelembagaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat kabupaten/kota. Menurutnya, TPID perlu diperkuat dengan melibatkan pemerintah daerah, Bank Indonesia, BUMN, BUMD, pelaku usaha, serta KADIN setempat.
Sinergi ini, kata dia, akan mempercepat respons terhadap potensi gejolak harga kebutuhan pokok. Dalam forum HLM tersebut, Teuku Jailani hadir bersama para kepala daerah, jajaran Bank Indonesia, BPS, Perum Bulog, Bank Aceh Syariah, dan organisasi perangkat daerah terkait.
"Pengendalian inflasi tidak cukup dilakukan melalui intervensi jangka pendek. Fondasi ekonomi daerah harus diperkuat melalui peningkatan kapasitas produksi agar stabilitas harga dapat terjaga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," kata Teuku Jailani.
KADIN Aceh menilai pendekatan jangka panjang melalui produksi lokal lebih efektif dibandingkan operasi pasar atau bansos yang sifatnya sementara. Dengan produksi yang kuat, harga kebutuhan pokok bisa stabil secara alami tanpa intervensi terus-menerus.