ACEH — Pergerakan rupiah pagi ini melanjutkan tren negatif dari sesi sebelumnya. Pada perdagangan Senin (6/7), rupiah melemah 0,23% dan ditutup di Rp18.064 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan mata uang China, yuan offshore, dan dolar Taiwan yang juga tertekan. Sementara itu, won Korea Selatan memimpin penguatan di kawasan Asia dengan apresiasi paling tajam, disusul peso Filipina, baht Thailand, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah acuan tenor 10 tahun tercatat turun 1 basis poin menjadi 7,13% pada pagi ini. Level tersebut merupakan yang terendah dalam dua pekan terakhir, mengindikasikan adanya pergerakan modal masuk ke aset pendapatan tetap.
Penurunan yield ini biasanya berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika yield turun, artinya harga obligasi naik karena permintaan investor meningkat.
Pelaku pasar saat ini tengah mencermati data cadangan devisa Indonesia yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data ini menjadi indikator penting bagi ketahanan eksternal ekonomi Indonesia di tengah tekanan nilai tukar.
Cadangan devisa yang solid akan memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi stabilisasi rupiah. Sebaliknya, jika terjadi penurunan signifikan, ekspektasi pasar terhadap kemampuan BI menjaga stabilitas kurs bisa berkurang.
Penguatan dolar AS yang sempat terjadi dalam beberapa pekan terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama utama dunia kini berada di 100,87.
Pelemahan dolar ini menjadi katalis positif bagi sejumlah mata uang Asia. Namun, rupiah dan yuan China justru masih berada di zona merah, menunjukkan bahwa faktor domestik masing-masing negara turut mempengaruhi pergerakan.
Investasi mengandung risiko. Pergerakan nilai tukar dipengaruhi oleh berbagai faktor global dan domestik yang dinamis.