Banda Aceh bukan cuma kota yang bangkit dari tsunami 2004. Di sudut-sudutnya, ada jejak kerajaan Islam terkuat di Nusantara. Saya beberapa kali ke sana dan selalu menemukan lapisan sejarah baru—dari dinding benteng yang berlubang peluru hingga makam sultan yang masih diziarahi hingga kini.
Tujuh tempat ini saya pilih berdasarkan pengalaman langsung dan obrolan dengan juru kunci serta pemandu lokal. Bukan sekadar daftar, tapi cerita yang masih hidup.
Bangunan ini dirancang oleh arsitek asal Bandung, Ridwan Kamil. Dari luar, bentuknya menyerupai gelombang laut. Masuk ke dalam, lorong gelap bernama "The Memory Lane" memutar rekaman suara gemuruh air dan teriakan warga saat 26 Desember 2004.
Lokasi: Jl. Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Tiket masuk Rp 5.000 per orang. Buka setiap hari pukul 08.00–16.00 WIB. Datang pagi hari supaya tidak terlalu ramai rombongan sekolah.
Benteng peninggalan Kerajaan Indra Patra ini terletak di Desa Lhoknga, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Jaraknya sekitar 20 menit dari pusat kota Banda Aceh. Yang menarik, benteng ini memiliki lorong bawah tanah sepanjang puluhan meter yang dulunya menghubungkan istana ke pantai.
Juru kunci setempat bercerita, benteng ini jadi tempat persembunyian terakhir Sultan Alauddin Riayat Syah saat diserang Portugis. Tidak ada tiket masuk, cukup isi kotak sumbangan sukarela. Jangan lupa bawa senter kalau mau masuk ke lorong bawah tanah.
Terletak di kompleks pemakaman Kandang XII, Kelurahan Peukan Bada, Aceh Besar. Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh pada 1607–1636, masa keemasan kerajaan. Makamnya sederhana, hanya batu nisan berukir kaligrafi, tapi selalu ramai peziarah dari berbagai daerah.
Di kompleks yang sama ada makam Laksamana Malahayati, panglima perempuan pertama di Asia Tenggara. Akses dari Simpang Surabaya sekitar 10 menit naik motor. Tidak dipungut biaya, tapi kami biasa membawa air mineral untuk dibagikan ke peziarah lain.
Rumah panggung kayu ini berada di Gampong Lampisang, Kecamatan Peukan Bada. Cut Nyak Dhien tinggal di sini setelah suaminya, Teuku Umar, gugur. Bangunannya masih asli, termasuk tungku dapur dan tempat tidur dari rotan.
Pemandu lokal menjelaskan, rumah ini sempat terbakar pada 2014 dan direkonstruksi berdasarkan foto lama koleksi Belanda. Tiket masuk Rp 5.000. Buka hingga pukul 17.00. Kalau datang siang, mampir ke warung kopi di depan—kopi saringnya enak dan harga cuma Rp 5.000 per gelas.
Masjid ini selamat dari tsunami 2004 meski air laut masuk hingga halaman. Dibangun pertama kali oleh Sultan Alauddin Mahmud Syah I pada 1612. Dua kali terbakar, lalu dibangun kembali oleh Belanda pada 1879 sebagai hadiah perdamaian setelah Perang Aceh.
Lokasi: pusat Kota Banda Aceh, tepat di seberang Blang Padang. Masjid buka 24 jam. Waktu terbaik untuk foto tanpa keramaian adalah Subuh atau setelah Isya. Tidak ada tiket masuk, tapi pengunjung wanita wajib memakai jilbab dan rok panjang.
Taman peninggalan Sultan Iskandar Muda ini dibangun untuk permaisurinya, Putroe Phang, yang berasal dari Kerajaan Pahang. Konon sang permaisuri sering sedih karena merindukan perbukitan di tanah kelahirannya. Maka Sultan membangun Gunongan—sebuah gundukan batu setinggi 10 meter yang bisa dipanjat.
Lokasi: Jl. Teuku Umar, Banda Aceh, sekitar 5 menit dari Masjid Raya. Tiket Rp 3.000 per orang. Cocok untuk piknik sore. Banyak anak-anak lokal main bola di halaman taman.
Pelabuhan ini sudah ada sejak abad ke-16 dan jadi pusat perdagangan lada serta persinggahan kapal-kapal Eropa. Namanya diambil dari Laksamana Malahayati, panglima angkatan laut yang memimpin 2.000 armada Inong Balee—pasukan janda perang.
Lokasi: Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Sekitar 30 menit dari Banda Aceh. Tidak ada tiket, tapi aksesnya melewati jalan desa yang sempit. Kalau beruntung, Anda bisa bertemu nelayan yang masih menggunakan perahu tradisional bercadik.
1. Berapa biaya untuk mengunjungi semua tempat ini?
Total tiket masuk tidak lebih dari Rp 20.000 per orang. Transportasi paling murah naik becak motor sewa harian Rp 150.000–200.000.
2. Kapan waktu terbaik ke Aceh untuk wisata sejarah?
Maret–Juni atau September–November. Hindari Desember–Februari karena curah hujan tinggi dan beberapa lokasi outdoor becek.
3. Apakah perlu pemandu wisata?
Tidak wajib, tapi sangat disarankan untuk Makam Sultan Iskandar Muda dan Benteng Indra Patra. Banyak pemandu lokal yang tinggal di sekitar lokasi dan bisa diajak bicara langsung.
4. Apakah tempat-tempat ini ramah untuk anak kecil?
Museum Tsunami dan Taman Sari Gunongan paling ramah anak. Benteng Indra Patra cukup terjal dan licin setelah hujan.
5. Bagaimana cara ke Aceh dari Jakarta?
Penerbangan langsung dari Jakarta ke Bandara Sultan Iskandar Muda sekitar 2,5 jam. Maskapai seperti Garuda, Lion Air, dan Citilink melayani rute ini setiap hari.
Aceh tidak perlu dramatisasi. Cukup datang, dengar cerita dari orang-orang yang menjaga situs ini setiap hari, dan Anda akan mengerti kenapa daerah ini punya tempat khusus di peta sejarah Indonesia. Jangan lupa bawa topi dan air minum—panas di sini bukan main, tapi cerita yang Anda bawa pulang sepadan.