BANDA ACEH — Ribuan petugas berseragam rompi resmi akan mendatangi rumah dan tempat usaha di 23 kabupaten/kota di Aceh. Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, mengimbau masyarakat untuk menerima kehadiran mereka dan memberikan data yang jujur.
Petugas tidak hanya menyasar perusahaan skala besar. Data akan dikumpulkan dari berbagai lapisan ekonomi, mulai dari rumah tangga, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sektor pertanian, hingga pedagang di pasar tradisional.
BPS memastikan sensus ini menjangkau aktivitas ekonomi khas Aceh. Mulai dari kedai kopi yang menjamur di setiap sudut kota, toko kelontong di kampung, warung makan, toko pakaian, hingga sektor distribusi barang dan pelaku ekonomi digital.
“Setiap data yang diberikan akan sangat membantu pemerintah dalam perencanaan pembangunan dan pengambilan keputusan,” kata Agus Andria di Banda Aceh, Senin. Data ini juga disebutnya mampu menghasilkan basis data tunggal ekonomi nasional yang akurat.
Bagi pelaku usaha, data yang terkumpul bisa menjadi peta potensi bisnis. “Sangat berguna bagi pelaku usaha dalam pengembangan bisnis dan melihat potensi usaha,” tambahnya.
BPS mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menerima orang yang mengaku petugas sensus. Petugas resmi SE2026 dibekali atribut lengkap: rompi bertuliskan "Petugas Sensus", kartu tanda pengenal (ID card) dengan QR Code, serta surat tugas.
Jika ragu, warga bisa memverifikasi identitas petugas melalui kode QR yang tertera. Langkah ini penting untuk menghindari modus penipuan yang mengatasnamakan sensus.
Dalam menyukseskan agenda nasional ini, BPS mengampanyekan gerakan "Terima, Isi, dan Rahasia" atau TIR. Tiga prinsip ini menjadi panduan bagi masyarakat selama masa pendataan:
BPS Aceh mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi demi masa depan ekonomi daerah yang lebih maju dengan menggaungkan tagar #MencatatEkonomiIndonesia.