MEULABOH — Rencana ekspor udang ke Arab Saudi menjadi katalis bagi perluasan areal tambak di Aceh Barat. Dinas Perikanan setempat mencatat sedikitnya 50 hektare lahan baru akan dibuka di Kecamatan Johan Pahlawan dan Samatiga untuk memenuhi permintaan pasar Timur Tengah yang disebut-sebut mulai meningkat.
Kepala Dinas Perikanan Aceh Barat, Teuku Faisal, mengatakan kebutuhan pasar ekspor menjadi pertimbangan utama. "Permintaan dari Arab Saudi untuk udang ukuran 30-40 ekor per kilogram cukup tinggi. Kami harus siapkan pasokan secara konsisten," ujarnya.
Dengan tambahan lahan baru, produksi udang Aceh Barat ditargetkan naik dari rata-rata 900 ton menjadi 1.200 ton per tahun. Sebagian besar akan dipasok ke perusahaan eksportir yang sudah menjalin kontrak dengan pembeli di Jeddah dan Riyadh.
Pembukaan tambak baru ini juga diikuti dengan program pendampingan budidaya. Pemerintah kabupaten menggandeng akademisi dari Universitas Teuku Umar untuk menerapkan sistem intensif yang lebih ramah lingkungan.
Selain permintaan yang stabil, jarak distribusi dari Aceh ke pelabuhan utama di Indonesia dinilai lebih efisien dibanding daerah penghasil udang lain di Indonesia timur. Pelabuhan Meulaboh juga mulai difungsikan untuk ekspor komoditas perikanan sejak tahun lalu.
Teuku Faisal menambahkan, pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan logistik pendingin. "Kualitas udang harus terjaga selama perjalanan. Ini yang sedang kami pastikan bersama eksportir," katanya.
Meski optimistis, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya sertifikasi kelayakan ekspor dari Badan Karantina Ikan. Selain itu, kualitas air di lokasi tambak baru harus memenuhi standar budidaya udang vaname.
Pemerintah Aceh Barat mengalokasikan anggaran Rp 1,5 miliar untuk pengadaan pompa air dan instalasi pengolahan air limbah di dua kecamatan tersebut. Pembangunan infrastruktur tambak ditargetkan rampung sebelum musim tanam pertama pada Maret 2026.