Bupati Aceh Besar Luncurkan Galeri Kebudayaan Digital di Kota Jantho

Penulis: Muhammd Nizar  •  Senin, 04 Mei 2026 | 15:49:03 WIB

KOTA JANTHO — Bupati Aceh Besar, H. Muharram Idris, secara resmi meluncurkan situs web Galeri Kebudayaan Aceh di Gedung Dekranasda Aceh Besar, Sabtu (2/5/2026). Inisiatif ini merupakan langkah strategis pemerintah daerah dalam mendigitalisasi aset sejarah agar tetap relevan bagi generasi muda.

Peluncuran platform digital tersebut dirangkai dengan pemutaran film dokumenter serta diskusi budaya yang melibatkan para pakar. Agenda ini merupakan bagian dari program Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana yang mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan.

Kehadiran galeri ini menjadi jawaban atas tantangan pelestarian budaya di era teknologi informasi. Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menilai dokumentasi yang sistematis merupakan fondasi utama dalam menjaga identitas daerah agar tidak tergerus arus zaman.

Digitalisasi Arsip Sejarah untuk Edukasi Publik

Dalam sambutannya, Bupati Muharram Idris menegaskan bahwa memahami sejarah adalah kewajiban bagi setiap warga Aceh. Ia menyebutkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan akar budayanya, terutama di tengah kompleksitas kehidupan modern.

"Kegiatan seperti ini sangat penting untuk merangsang dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Kita memiliki sejarah panjang dan pernah mencapai kemajuan besar di masa lalu. Karena itu, kita sebagai orang Aceh harus mengetahui dan memahami sejarah kita sendiri," ujar Muharram.

Ia menambahkan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada benda fisik semata. Selain situs sejarah dan artefak, aspek bahasa menjadi perhatian serius karena merupakan ruh dari jati diri sebuah bangsa yang kini mulai menghadapi tekanan urbanisasi.

Ancaman Globalisasi dan Penyelamatan Bahasa Aceh

Muharram Idris menyoroti fenomena transmigrasi dan pola hidup urban yang perlahan mengubah cara berkomunikasi masyarakat. Ia mengajak seluruh elemen warga untuk tetap memprioritaskan penggunaan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari sebagai identitas yang tak tergantikan.

"Bahasa Aceh harus terus kita jaga. Generasi yang ideal adalah yang mampu memahami dan menggunakan bahasa Aceh sekaligus bahasa Indonesia. Ini penting agar jati diri kita tidak hilang," tegas Bupati di hadapan para tokoh budaya.

Bupati mengingatkan bahwa nenek moyang orang Aceh dikenal sebagai generasi tangguh. Semangat ketangguhan tersebut harus menjadi inspirasi bagi generasi saat ini untuk tetap menjaga warisan leluhur. Menurutnya, kehilangan bahasa sama saja dengan kehilangan separuh dari jiwa bangsa itu sendiri.

Penguatan Ekosistem Budaya Melalui Dana Indonesiana

Ketua Panitia Pelaksana, Al Kindi Mahlil Idham, menjelaskan bahwa kehadiran situs web Galeri Budaya Aceh bertujuan untuk memastikan keberlanjutan dokumentasi sejarah. Melalui platform ini, berbagai arsip yang selama ini tersebar dapat diakses oleh masyarakat luas dari mana saja.

"Melalui digitalisasi, benda-benda sejarah yang rentan hilang atau rusak dapat tetap terjaga dalam bentuk digital. Ini adalah langkah awal untuk memastikan warisan budaya Aceh tetap lestari," kata Al Kindi.

Al Kindi menambahkan bahwa pengembangan situs web ini akan dilakukan secara bertahap. Proyek berkelanjutan ini melibatkan berbagai komunitas dan akademisi untuk memperkaya konten sejarah yang akurat. Hal ini diharapkan mampu membangun ekosistem budaya yang lebih kuat dan mandiri di Aceh Besar.

Forum diskusi yang digelar usai peluncuran juga menjadi ruang dialog produktif bagi para pegiat sejarah. Mereka merumuskan langkah-langkah konkret agar platform digital ini tidak sekadar menjadi pajangan, tetapi menjadi rujukan utama dalam studi kebudayaan Aceh di masa depan.

Reporter: Muhammd Nizar
Back to top