Aceh Besar – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia mengerahkan ratusan peserta didik sebagai relawan untuk membantu penanganan bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatra. Sebanyak 200 peserta didik ditugaskan ke Provinsi Aceh, sementara 100 peserta didik lainnya diberangkatkan ke Sumatra Barat.
Para relawan muda ini akan terlibat langsung dalam berbagai aktivitas kemanusiaan, mulai dari pendampingan masyarakat terdampak, penyaluran bantuan logistik, hingga dukungan pemulihan sosial pascabencana banjir dan longsor.
Sebelum diterjunkan ke lokasi terdampak, para peserta didik mendapatkan pembekalan dan motivasi dari Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, dalam kegiatan yang berlangsung di Aceh Besar pada Minggu, 25 Januari 2026.
Dalam arahannya, Murthalamuddin menekankan bahwa kerja-kerja kemanusiaan menuntut ketulusan, empati, dan kemampuan menjaga persaudaraan. Ia mengingatkan agar para relawan hadir sebagai solusi dan penguat bagi masyarakat, bukan justru menimbulkan kesalahpahaman di lapangan.
“Dalam kegiatan kemanusiaan, yang sering diuji bukan hanya kemampuan teknis, tetapi bagaimana menjaga rasa persaudaraan. Ini bukan tentang asal-usul atau perbedaan, melainkan tentang membantu saudara sebangsa yang sedang tertimpa musibah,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Senin (26/1/2026).
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat Aceh pada prinsipnya terbuka menerima kehadiran relawan dari berbagai daerah, selama tujuan utamanya murni untuk membantu dan meringankan beban korban bencana.
“Atas nama masyarakat Aceh, kami sangat terbuka. Kehadiran kalian adalah bentuk kepedulian. Jadikan pengabdian ini sebagai contoh yang baik, bukan hanya untuk Aceh, tetapi juga bagi daerah lain,” katanya.
Murthalamuddin berharap keterlibatan peserta didik KKP RI dapat menjadi teladan solidaritas dan kepedulian sosial, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga dalam konteks kemanusiaan global.
“Apa yang kalian lakukan hari ini bisa menjadi inspirasi. Bukan hanya ketika musibah terjadi di Aceh, tetapi juga di seluruh Indonesia, bahkan di dunia,” pungkasnya.