BANDA ACEH — Pembukaan muzakarah berlangsung di Taman Ratu Safiatuddin dengan dihadiri jamaah dan peserta dari berbagai daerah. Mayoritas peserta tampak mengenakan pakaian putih. Selain Turki, Maroko, Mesir, Palestina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Pakistan, sejumlah delegasi lain turut hadir mewakili negara masing-masing.
Ketua Umum MPTT-Indonesia, Abi Sahal Tastari Waly, menyebut muzakarah sebagai momentum mengangkat kembali ajaran tauhid sufi di Aceh. Menurutnya, tradisi itu memiliki akar sejarah panjang di wilayah Serambi Mekkah.
"Harapan kami, ajaran sufi kembali berkembang dan diangkat di bumi Aceh, sebagaimana pernah berkembang pada masa Kesultanan Aceh," kata Abi Sahal dalam sambutannya.
Dia berharap tradisi tasawuf yang punya rekam jejak panjang di Aceh kembali dikenal luas, termasuk di kancah internasional. Sejumlah nama ulama klasik Aceh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, dan Abdurrauf as-Singkili disebut berperan besar dalam perkembangan pemikiran tasawuf di wilayah itu.
Acara dibuka oleh Plt Sekretaris Daerah Aceh, Taufiq, yang hadir mewakili Gubernur Aceh. Ia menyampaikan selamat datang kepada para ulama dan delegasi dari berbagai negara, dan menyebut kehadiran mereka sebagai kehormatan bagi Aceh.
Taufiq berharap pertemuan itu tidak berhenti sebagai forum diskusi keagamaan, tetapi juga menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat. Menurutnya, tema persatuan dan perdamaian yang diangkat relevan dengan tantangan saat ini.
"Tasawuf mengajarkan kita tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga membersihkan hati, menghaluskan akhlak, menahan ego, serta mengedepankan kasih sayang," ujarnya.
Taufiq menyinggung pengalaman Aceh dalam membangun perdamaian. Menurutnya, perdamaian menuntut keberanian membuka hati, saling memahami, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Ia menjelaskan, pengamalan Islam tidak hanya berkaitan dengan syariat secara lahiriah, tetapi juga hakikat secara batiniah. Pemahaman terhadap dimensi batin dinilai penting untuk membantu seseorang mengendalikan penyakit hati dan mengedepankan kedamaian.
"Acara ini bukan untuk menciptakan konflik, tetapi untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan di Aceh," tegasnya.
Rangkaian kegiatan diisi khutbah iftitah oleh Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy, ulama sufi asal Aceh Selatan yang dikukuhkan sebagai Wali Agama Aceh. Dalam khutbahnya, ia menekankan pentingnya memahami ajaran Islam melalui dimensi Islam, iman, dan ihsan serta mendalami ajaran tasawuf.
Kegiatan itu turut dirangkaikan dengan peluncuran buku karya Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy. Menjelang akhir acara, suasana lokasi diwarnai lantunan zikir yang diikuti jamaah secara bersama-sama.
Peserta melantunkan zikir dengan khusyuk, menciptakan suasana religius di tengah rangkaian Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II di Banda Aceh. Jamaah yang hadir dari berbagai daerah mengikuti zikir bersama sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.