Danantara Evaluasi Peran DSI Sebelum 2027, Ekspor Komoditas Bisa Diperluas

Penulis: Fajar  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 08:18:02 WIB
Managing Director Global Relations & Communication Danantara, Pahala Nugraha Mansury, menyampaikan keterangan dalam acara di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta.

ACEH — Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) akan dievaluasi perannya menjelang 1 Januari 2027, termasuk kemungkinan terjun langsung sebagai pelaku perdagangan ekspor komoditas strategis. Evaluasi ini menentukan apakah DSI tetap sebatas pengumpul data atau diperluas ke komoditas di luar CPO, batu bara, dan ferroalloy.

Managing Director Global Relations & Communication Danantara, Pahala Nugraha Mansury, menyatakan evaluasi itu dilakukan untuk memastikan peran lanjutan DSI setelah berjalan sejak Juli 2026. Sejak dibentuk, badan yang menaungi ekspor komoditas strategis ini belum masuk ke transaksi perdagangan dan masih fokus menelaah data ekspor tiga komoditas.

Pahala menyampaikan hal itu di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta. Menurut dia, hasil review akan menentukan arah DSI pada 2027, termasuk apakah badan ini hanya mengawasi atau ikut bertransaksi langsung.

Peluang Perluasan ke Komoditas Lain

DSI saat ini menelaah data ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), batu bara, dan paduan besi (ferroalloy). Pahala membuka kemungkinan perluasan cakupan ke komoditas lain di luar ketiga sektor tersebut.

"Jadi bisa saja di luar tiga komoditas tersebut akan dilakukan perluasan atau terlibat langsung dalam hal pelaksanaan daripada trading," ujar Pahala, dikutip Rabu (7/10/2026).

Ia menilai DSI berpotensi masuk sebagai pelaku transaksi ekspor. Namun keputusan itu bergantung pada hasil evaluasi yang dilakukan sebelum 1 Januari 2027.

"Nanti di sebelum tanggal 1 Januari 2027 tentunya akan dilakukan review mengenai peran lebih lanjut daripada mereka," kata Pahala.

Fokus Saat Ini: Berantas Underinvoicing

Hingga kini, DSI memusatkan kerja pada pengumpulan data ekspor komoditas strategis. Data dari berbagai pos kementerian dan lembaga disandingkan untuk meminimalkan praktik underinvoicing dan transfer pricing.

Pahala menjelaskan, DSI tengah membangun platform pengumpulan data yang melibatkan kementerian lain. Tujuannya memastikan data ekspor tercatat utuh dan tidak dimanipulasi.

"Memang yang akan kita lakukan pada saat ini adalah mereka menjadi yang akan membangun platform untuk misalnya pengumpulan data," jelasnya.

Portal NADI dan Enam Asosiasi Industri

PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) belum lama ini merilis portal pemantauan dana ekspor komoditas strategis bernama National Data Intelligence (NADI). Portal ini diluncurkan bertahap kepada para eksportir.

Pelaksanaan pilot project melibatkan enam asosiasi industri, yakni APBI-ICMA, GAPKI, GIMNI, FINI, APINDO, dan Indonesian Mining Association (IMA). Keterlibatan mereka berlangsung sejak tahap uji coba untuk memastikan sistem menjawab kebutuhan operasional pelaku usaha.

"Prioritas kami adalah meningkatkan transparansi dan visibilitas, sekaligus memastikan kegiatan ekspor tetap berjalan lancar," ujar Direktur Keuangan dan Treasury DSI, Sinthya Roesly.

Pemerintah dan DSI terus membahas implementasi lanjutan agar selaras dengan ketentuan yang diperbarui, tanpa mengganggu kelancaran ekspor.

"Tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem ekspor yang lebih transparan, terkoordinasi dan memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada pelaku usaha serta pasar global terhadap komoditas strategis Indonesia," ujar Sinthya.

Bagi pelaku usaha, hasil evaluasi ini menentukan apakah alur ekspor tetap seperti sekarang atau berubah dengan kehadiran DSI sebagai perantara. Pemerintah menargetkan keputusan final sebelum 2027 agar pelaku pasar memiliki kepastian sebelum tahun anggaran baru berjalan.

Reporter: Fajar
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top