ACEH — Setiap anak berhak tumbuh di lingkungan sekolah yang aman, bukan hanya bebas dari kekerasan, tetapi juga memberi ruang untuk mengenali minat dan identitas dirinya. Simak panduan praktis memilih sekolah ramah anak serta cara mendampingi buah hati agar percaya diri mengembangkan potensinya.
Arnesya Ramadhani, dosen Fakultas Teknologi Industri Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGA) Cilacap, menegaskan sekolah ramah anak bukan sekadar terbebas dari kekerasan. Lingkungan pendidikan juga wajib memberi ruang bagi anak untuk berpartisipasi, merasa dihargai, dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Pandangan itu disampaikan dalam dialog Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Purwokerto bertema "Sekolah Aman buat Anak Nyaman Berkembang sesuai Identitasnya". Dialog menghadirkan dua narasumber dari UNUGA Cilacap, yakni Arnesya Ramadhani, S.T., M.T. dan Dr. Dina Preasetyaning M. dari Fakultas Ekonomi.
Menurut Arnesya, sekolah ramah anak adalah sekolah yang mampu memfasilitasi, mengembangkan, dan memberdayakan potensi anak. Anak seharusnya semakin tumbuh percaya diri, bukan justru merasa tertekan atau kehilangan kepercayaan diri.
"Sekolah ramah anak itu yang pertama itu adalah sekolah yang dapat memfasilitasi kemudian mengembangkan atau memberdayakan potensi anak," jelas Arnesya.
Karena itu, sekolah perlu memiliki kebijakan yang jelas soal pencegahan dan penanganan perundungan maupun kekerasan. Tanpa aturan tertulis, kasus di lapangan rawan ditangani secara serampangan.
Sebelum mendaftarkan anak, orang tua sebaiknya mengecek keberadaan kebijakan serta satuan tugas penanganan kekerasan di sekolah. Informasi ini penting agar ibu dan ayah tahu bagaimana pihak sekolah bertindak jika terjadi perundungan.
Selain kebijakan, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan:
Empat poin itu saling melengkapi. Sekolah dengan gedung bagus tapi guru yang belum paham hak anak tetap belum bisa disebut ramah anak.
Anak laki-laki yang hobi memasak atau anak perempuan yang gemar olahraga kerap dianggap menyimpang dari kebiasaan. Dina menekankan perbedaan minat seperti itu tidak bisa langsung disimpulkan sebagai persoalan identitas gender.
"Belum tentu ketika anak laki-laki menyukai hal ataupun minat yang ternyata berbeda dengan laki-laki pada umumnya, bukan berarti langsung kita mengatakan bahwa ini ada permasalahan di identitas gendernya," ujar Dina.
Orang tua perlu mendampingi anak dengan cara mendengarkan dan memahami keinginan mereka. Sekolah dapat membantu lewat kegiatan ekstrakurikuler dan layanan bimbingan konseling.
Minat yang muncul sejak kecil juga belum tentu menunjuk cita-cita masa depan. Amati perkembangan minat dalam jangka waktu tertentu, lalu diskusikan dengan anak soal apa yang benar-benar mereka sukai.
Menciptakan ruang aman bukan berarti membebaskan anak tanpa batas. Orang tua dan guru tetap berperan memberi aturan serta arahan, hanya saja disiplin perlu disertai penjelasan yang bisa dipahami anak.
"Kalau untuk disiplin itu adalah tegas terhadap perilaku, namun lembut terhadap pribadi," ungkap Arnesya.
Larangan tanpa penjelasan atau kata-kata yang merendahkan membuat anak merasa tidak dihargai. Dalam jangka panjang, kondisi itu berpotensi menekan anak dan menghambat keberaniannya mengekspresikan diri.
Orang tua dan guru perlu membedakan antara memberi batasan dengan memaksakan keinginan. Anak tetap butuh arahan, tapi prosesnya dijalankan lewat komunikasi dan pendampingan.
Perundungan kerap berawal dari candaan mengenai fisik, pakaian, atau sifat seseorang. Banyak yang menganggapnya hal biasa, padahal candaan semacam itu bisa membuat anak merasa tidak nyaman.
Arnesya menekankan sekolah perlu punya mekanisme jelas untuk menangani kasus seperti ini. Anak juga harus tahu ke mana melapor ketika merasa terganggu oleh perilaku teman.
Jika anak menunjukkan perubahan perilaku drastis, enggan ke sekolah, atau sering murung sepulang sekolah, orang tua sebaiknya segera berkomunikasi dengan wali kelas. Libatkan guru bimbingan konseling bila gejala berlanjut.
Untuk kasus kekerasan yang melibatkan fisik atau ancaman, laporkan ke satuan tugas sekolah dan catat kronologinya. Keterlibatan dinas pendidikan atau lembaga perlindungan anak bisa dipertimbangkan jika penanganan internal tidak memadai.
Memilih sekolah yang aman dan mendampingi anak sesuai minatnya adalah investasi jangka panjang. Anak yang merasa diterima akan lebih berani mencoba hal baru, dan itu menjadi bekal penting saat ia dewasa.