BANDA ACEH — Tiga film dokumenter pelajar yang berlaga di Aceh Documentary Competition (ADC) 2026 resmi menerima penghargaan pada malam penganugerahan. Ketiganya adalah "Bili dan Laut", "Bahasa Indatu", dan "Selat Hormuz".
Proses produksi ketiga film berlangsung dua bulan, melibatkan para pelajar bersama teman sebaya dan guru pendamping. Program Aceh Documentary sendiri telah memasuki tahun ke-14.
Azhari menyebut pihaknya mengubah arah program pada tahun terakhir. Fokus yang semula umum dipersempit ke kalangan pelajar.
"Di tahun terakhir ini kami kemudian berubah, yang awalnya ADISI ini hanya fokus secara umum, tapi akhirnya kami memilih pelajar," ujarnya.
Alasannya, pelajar dinilai punya kedekatan emosional dengan lingkungan sekitar. Kedekatan itu menghasilkan perspektif tersendiri saat mereka mengangkat persoalan lewat film dokumenter.
"Mereka lebih punya emosional tentang alam sekitarnya," kata Azhari.
Aceh Documentary menjalankan program Kampung Film yang membawa karya peserta ke berbagai kampung. Pada tahun ini, program tersebut digelar di 17 kampung.
Dalam salah satu pemutaran di Bireuen, tiga desa membatalkan jadwal karena menilai salah satu film memiliki persoalan tertentu. Sebuah pondok pesantren kemudian meminta film yang sama diputar di tempat mereka.
Setelah film selesai ditonton, pimpinan pesantren yang biasa disapa walid memutuskan tidak menyampaikan ceramah malam itu.
"Ada hal menarik bagi kami setelah film ditonton, kemudian walid, panggilan pimpinannya itu, walid meminta bahwa dia malam ini enggak lagi berceramah karena sudah menonton film," ujar Azhari.
Pengalaman di pondok pesantren itu membuat Aceh Documentary menilai film bisa menjadi medium alternatif menyampaikan pesan ke masyarakat.
"Akhirnya kami merasa sangat lega karena film di satu sisi juga bisa menjadi sebuah medium dakwah," kata Azhari.
Menurutnya, pesan lewat film membangun keterlibatan emosional penonton. Terlebih ketika karya dibuat pelajar yang merekam realitas kehidupan di sekitarnya.
"Mungkin kawan-kawan pelajar ini sudah memberikan dakwahnya saya rasa yang bisa memberikan emosional kepada penonton," ujarnya.
Award Ceremony ADC 2026 berlangsung tertib dan dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh M Nasir, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh, perwakilan sekolah, serta siswa SMA/MA di Banda Aceh.