BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Kenaikan 25 Bps Berisiko Turunkan Pertumbuhan 0,1%

Penulis: Ragil  •  Senin, 28 September 2026 | 15:47:31 WIB
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan keputusan suku bunga dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).

ACEH — Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen pada September 2026 karena ekonomi masih bergerak di bawah level potensial. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut kenaikan 25 basis poin berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 persen.

Keputusan tersebut disampaikan Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026). Menurut asesmen bank sentral, perekonomian nasional masih mengalami negative output gap sehingga belum membutuhkan pengetatan moneter tambahan.

"Asesmen kami juga melihat kalau BI Rate naik 25 basis poin, maka pertumbuhan ekonomi akan turun sekitar 0,1 persen," ujar Destry dalam forum tersebut.

Ekonomi di Bawah Potensial, Ruang Pertumbuhan Masih Terbuka

Destry menjelaskan, kondisi output gap yang negatif menandakan masih ada ruang bagi ekonomi untuk tumbuh lebih tinggi tanpa memicu lonjakan inflasi. BI juga rutin melakukan stress test terhadap dampak kenaikan suku bunga dan pergerakan rupiah terhadap pertumbuhan.

"Kalau dia masih negatif berarti masih ada ruang untuk pertumbuhan ekonomi tanpa mengakibatkan kebanyakan inflasi," kata Destry. Ia menegaskan inflasi tetap menjadi jangkar utama kebijakan moneter karena dampaknya menjalar ke berbagai sektor.

Inflasi Inti 2 Persen, Inflasi Umum 3,19 Persen

Dari sisi harga, inflasi inti yang mencerminkan tekanan permintaan masih berada di sekitar 2 persen. Sementara inflasi umum tercatat 3,19 persen, terutama ditopang kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food).

Destry menilai pengendalian inflasi pangan tidak bisa hanya mengandalkan instrumen suku bunga. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

Dampak ke Pasar dan Pelaku Usaha

Bagi investor obligasi, penahanan BI Rate di 5,75 persen mempertahankan daya tarik imbal hasil surat utang negara di kisaran saat ini. Spread terhadap yield US Treasury masih menjadi pertimbangan utama arus modal asing.

Pelaku usaha yang bergantung pada kredit perbankan mendapat kelegaan karena biaya pinjaman tidak naik. Sektor properti dan otomotif yang sensitif terhadap suku bunga berpotensi menahan momentum pemulihan tanpa tambahan beban cicilan.

Ke depan, arah kebijakan BI akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi pangan dan stabilitas rupiah. Jika tekanan volatile food mereda, ruang penurunan suku bunga bisa terbuka lebih cepat dari perkiraan pasar.

Reporter: Ragil
Sumber: infobanknews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top