BANDA ACEH — Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, menyatakan buku-buku terjemahan yang dihasilkan lembaganya tidak boleh sekadar menjadi koleksi rak perpustakaan. Menurutnya, produk penerjemahan harus dipakai langsung dalam aktivitas literasi di sekolah.
"Kegiatan itu merupakan bagian dari upaya kami untuk mendekatkan produk penerjemahan Balai Bahasa Provinsi Aceh kepada peserta didik. Kami ingin buku-buku yang dihasilkan tidak hanya menjadi koleksi, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai bahan bacaan dalam kegiatan literasi," kata Muhammad Irsan, Minggu 27 September 2026.
Empat sekolah menjadi sasaran rangkaian kegiatan tersebut. Dua sekolah di Kabupaten Pidie, yaitu SD Negeri Keude Batee dan SD Negeri Aron Batee, disasar lebih dulu. Kegiatan kemudian berpindah ke SD Negeri 10 Banda Aceh dan SD Negeri 1 Peukan Bada di Kabupaten Aceh Besar.
Buku yang dibagikan memadukan bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam satu cerita. Format itu dipilih agar siswa berlatih membaca sekaligus mengenal kosakata daerah yang jarang mereka dengar di rumah.
Irsan menilai pendekatan dwibahasa sejalan dengan Trigatra Bangun Bahasa. Prinsip itu menempatkan bahasa Indonesia sebagai prioritas, bahasa daerah yang wajib dilestarikan, dan bahasa asing yang perlu dikuasai.
"Melalui buku cerita anak dwibahasa, peserta didik dapat meningkatkan kemampuan membaca sekaligus mengenal bahasa daerah. Ini sejalan dengan semangat Trigatra Bangun Bahasa, yaitu utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing," ujarnya.
Alur kegiatan tidak berhenti pada pembagian buku. Peserta lebih dulu mendapat pengantar dari Irsan soal peran Balai Bahasa dan program penerjemahan yang menghasilkan buku dwibahasa.
Setelah itu, siswa memilih buku sendiri dan membaca dengan pendampingan guru. Mereka lalu diajak berdiskusi soal isi, pesan, dan kesan terhadap bacaan yang sudah diselesaikan.
Koordinator kegiatan, Murhaban, menyebut sesi berbagi cerita jadi bagian penting. Anak tidak hanya membaca, tetapi juga diminta menceritakan kembali isi buku di depan teman-temannya.
"Buku cerita dwibahasa dapat menjadi sarana yang menarik bagi peserta didik untuk memperkaya kosakata dan meningkatkan pemahaman terhadap bacaan. Anak-anak tidak hanya membaca, tetapi juga diajak memahami isi cerita dan menceritakannya kembali," kata Murhaban.
Murhaban mengamati peserta cukup aktif selama kegiatan. Sebagian siswa bahkan menuntaskan beberapa buku dalam satu sesi.
"Kami melihat peserta cukup antusias mengikuti kegiatan. Mereka aktif berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan menceritakan kembali isi buku yang dibaca. Ini menunjukkan bahwa buku cerita dapat menjadi media yang efektif dalam mendukung kegiatan literasi di sekolah," ujarnya.
Sebanyak 264 buku cerita anak dwibahasa diserahkan ke empat sekolah yang terlibat. Buku-buku itu menjadi milik sekolah dan masuk ke koleksi perpustakaan.
Dengan cara itu, Balai Bahasa Provinsi Aceh berharap pemanfaatan produk penerjemahan berlanjut lewat aktivitas membaca harian di sekolah, bukan berhenti begitu acara selesai.