REDELONG — Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Bener Meriah, Uswatun Hasanah, mengatakan program hilirisasi ini menyentuh 821 kelompok tani. Dari jumlah itu, 495 kelompok telah diverifikasi di tingkat provinsi, sementara 326 kelompok masih diproses di tingkat kabupaten.
Verifikasi berjenjang menjadi kendala utama. Dua persoalan yang muncul: ketidaksesuaian titik koordinat lahan dan akses penyuluh ke kebun yang terganggu akibat kerusakan jalan pascabencana.
Penyaluran bibit kopi yang semula dijadwalkan September 2026 belum bisa direalisasikan. Proses verifikasi di dua tingkat pemerintahan belum tuntas seluruhnya.
Uswatun menyebut skala program yang besar membuat verifikasi tidak bisa dipercepat sembarangan. Ketepatan data penerima menjadi syarat sebelum bibit disalurkan.
Uswatun menegaskan keberhasilan program ini bergantung pada keterlibatan aparat kecamatan hingga tingkat kampung. Ia meminta camat, reje, dan seluruh elemen terkait ikut mengawal proses verifikasi.
"Dengan melibatkan begitu banyak petani, tentu ini bukan pekerjaan mudah. Karena itu, dibutuhkan peran camat, reje, dan seluruh elemen yang terlibat di dalamnya," ujar Uswatun.
Reje adalah sebutan kepala kampung di Aceh. Peran mereka penting untuk memastikan data petani penerima bibit sesuai kondisi lapangan.
Kerusakan jalan pascabencana memperlambat penyuluh menjangkau kebun warga. Kondisi ini turut memengaruhi proses verifikasi titik koordinat lahan yang tersebar di sembilan kecamatan.
Dinas Pertanian dan Pangan Bener Meriah belum menyebut jadwal baru penyaluran bibit. Program hilirisasi tetap berjalan dengan fokus menyelesaikan verifikasi 326 kelompok tani yang masih tersisa.