20 Akuisisi Jumbo 2026: Manuver Prajogo, Salim-Bakrie hingga Sinar Mas

Penulis: Sutomo  •  Senin, 21 September 2026 | 08:19:31 WIB
Sepanjang 2026 tercatat 20 transaksi akuisisi jumbo yang melibatkan emiten dan perusahaan terafiliasi konglomerat di Indonesia.

ACEH — Sepanjang 2026, sedikitnya 20 transaksi akuisisi bernilai besar diumumkan emiten dan perusahaan terafiliasi konglomerat di Indonesia. Nilai transaksi terbesar datang dari kerja sama FrieslandCampina dan Ultrajaya yang menembus Rp 14,57 triliun. Aksi ini menyentuh hampir semua sektor, dari energi hingga kesehatan.

Ekspansi lewat jalur akuisisi menjadi pilihan utama kelompok usaha besar tahun ini. Bukan hanya menambah aset, sejumlah transaksi juga mengubah struktur pengendalian perusahaan terbuka. Nama-nama seperti Prajogo Pangestu, kongsi Grup Salim–Bakrie, Happy Hapsoro, dan Sinar Mas Group milik Franky Oesman Widjaja masuk dalam daftar itu.

Ultrajaya dan Frisian Flag Paling Menyita Perhatian

Transaksi terbaru datang dari PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) bersama FrieslandCampina. Keduanya mengumumkan kerja sama yang berpotensi mengubah peta pengendalian ULTJ dan PT Frisian Flag Indonesia (FFI).

ULTJ berencana menerbitkan sekitar 7,9 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 2.150 per saham. Dana dan saham hasil aksi korporasi itu sebagian besar dipakai untuk mengambil alih 100% saham FFI lewat mekanisme inbreng, dengan nilai transaksi sekitar Rp 14,57 triliun.

Dalam rights issue tersebut, pengendali ULTJ akan mengalihkan haknya kepada pemegang saham FFI, yakni FrieslandCampina International Holding B.V., Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd., dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa. Ketiganya akan mengambil bagian melalui penyetoran modal dalam bentuk selain uang.

Jika seluruh persetujuan diperoleh dan transaksi terealisasi, FrieslandCampina akan menjadi pengendali baru ULTJ.

Chandra Asri dan Petrindo di Jalur Ekspansi Prajogo

Prajogo Pangestu melanjutkan agresivitasnya lewat sejumlah transaksi yang efektif maupun baru diumumkan sepanjang 2026. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengakuisisi jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura dengan nilai sekitar US$ 1 miliar atau setara Rp 17,82 triliun.

TPIA juga mengambil alih bisnis Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia dari Jardine Cycle & Carriage (SGX: C07) senilai sekitar US$ 207 juta atau Rp 3,69 triliun.

Lewat anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), grup ini mengakuisisi 40% saham PT Armada Maritim Persada dari PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Nilai transaksinya mencapai Rp 1,61 triliun.

Di sisi lain, PT Petrosea Tbk (PTRO) yang merupakan entitas CUAN kini menggenggam 27,78% saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI), emiten milik Happy Hapsoro. Manajemen CUAN menyatakan perseroan masih bernegosiasi dengan pemegang saham SINI soal rencana pengambilalihan tersebut.

"Rencana Pengambilalihan, maka CUAN (melalui entitas anaknya) akan menjadi pemegang saham terbesar pada SINI dan sekaligus memiliki pengendalian terhadap arah dan kebijakan perusahaan dan manajemen SINI," tulis manajemen CUAN dalam keterbukaan informasi BEI.

Bumi Resources Pakai Utang Glencore untuk Akuisisi

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyiapkan sekitar Rp 1 triliun guna mengakuisisi Loyal Metals. Yang menarik, dana ekspansi itu mayoritas berasal dari utang raksasa komoditas global Glencore Australia Holdings Pty Limited.

Direktur Bumi Resources, R.A Sri Dharmayanti, menyebut BUMI memperoleh pinjaman US$ 54 juta atau setara Rp 958,28 miliar dari Glencore berdasarkan Facility Agreement yang diteken pada 24 Agustus 2026.

Sri menjelaskan akuisisi Loyal Metals dilakukan setelah penilaian internal dan uji tuntas menunjukkan nilai bersih sekarang atau NPV positif serta tingkat pengembalian internal atau IRR di atas ambang minimum investasi perseroan.

BUMI juga melihat potensi sinergi karena aset Loyal Metals, Wolfram Limited, dan Jubilee Metals sama-sama berada di Queensland. Ketiganya memiliki kesamaan struktur perizinan dan pemenuhan kewajiban lingkungan karena berada dalam satu yurisdiksi.

"Kesesuaian dengan strategi perseroan, akuisisi ini mendukung sasaran untuk mencapai bauran EBITDA dari kegiatan usaha non-batubara termal di atas 50% pada tahun 2031," ucap Sri.

Deret Transaksi Jumbo Lainnya

Di luar aksi para konglomerat, sejumlah perusahaan juga memperluas aset ke sektor strategis. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) menyiapkan akuisisi 14 perusahaan pemilik aset rumah sakit First REIT dengan nilai sekitar Rp 9 triliun.

PT United Tractors Tbk (UNTR) memperluas portofolio tambangnya melalui akuisisi Tambang Emas Doup milik PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) senilai Rp 8,85 triliun. Di sektor media dan telekomunikasi, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turut masuk dalam deretan transaksi besar 2026.

Secara keseluruhan, 20 transaksi jumbo sepanjang 2026 memperlihatkan pola serupa: perusahaan terbuka dan konglomerat memakai akuisisi untuk masuk ke sektor baru, memperbesar skala, atau mengubah komposisi pendapatan. Bagi investor, deret ini menjadi sinyal arah ekspansi grup usaha besar yang perlu dicermati pada 2027.

Reporter: Sutomo
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top