LHOKSEUMAWE — Adopsi pembayaran digital di Aceh bagian timur terus menguat. Bank Indonesia mencatat jumlah merchant QRIS di wilayah kerja Lhokseumawe bertambah signifikan, seiring dengan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap sistem non-tunai.
Hingga Juni 2026, total merchant QRIS mencapai 136.179. Angka ini mencerminkan perluasan ekosistem pembayaran digital yang masif, tidak hanya di perkotaan tetapi juga menjangkau pasar tradisional dan pelaku usaha kecil.
Sepanjang semester pertama 2026, frekuensi transaksi QRIS di wilayah KPwBI Lhokseumawe menembus 24.002.952 transaksi. Nilai nominalnya mencapai Rp 1,93 triliun.
Yudo Herlambang menjelaskan, pertumbuhan ini sejalan dengan tren pembayaran digital di tingkat Provinsi Aceh yang terus menanjak. Ia menyebut QRIS sebagai standar nasional pembayaran berbasis QR Code yang dikembangkan untuk mempermudah transaksi lintas penyedia jasa pembayaran.
Di tengah lonjakan transaksi, Bank Indonesia tidak hanya fokus pada perluasan merchant. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, KPwBI Lhokseumawe telah menggelar 15 kali sosialisasi dan edukasi terkait perlindungan konsumen.
Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 3.000 peserta dari berbagai kalangan masyarakat. Materi yang disampaikan menekankan penggunaan transaksi digital yang aman serta cara meminimalkan risiko fraud dan scam yang kerap membayangi transaksi online.
“Kami menilai edukasi menjadi salah satu kunci dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital. Dengan meningkatnya literasi keuangan digital, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan QRIS secara lebih bijak, aman, dan bertanggung jawab,” ujar Yudo.
Ke depan, BI Lhokseumawe akan terus mendorong adopsi QRIS di segmen usaha mikro dan pasar rakyat. Langkah ini dinilai strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di wilayah kerja yang meliputi Lhokseumawe, Aceh Utara, Bireuen, dan sekitarnya.
Yudo menambahkan, pihaknya juga aktif bersinergi dengan perbankan dan pemerintah daerah untuk memperluas infrastruktur pembayaran digital. Selain mendorong pertumbuhan penggunaan QRIS, upaya literasi masyarakat terkait sistem pembayaran digital terus digencarkan.